G30S/PKI kelompok VII
MAKALAH
G30S/PKI
Dosen pengampuh: Ratna khairunnisa, S.Pd.,M.Pd
Disusun oleh:
Kelompok 7 : 1. Khairunnisa putri song
2. Nur fitriayani
3.Yefi alisa
4.Dalfian
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran tuhan yang maha esa karena atas kelimpahan rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul”G30S/PKI” tidak lupa kami juga mengucapkan banyak teerimakasih atas bantuan pihak yang telah berkontrubusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pemikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dari makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Kata pengatar……………………………………………………………1
Daftar isi………………………………………………………………...2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang………………………………………………….3
B. Rumusan masalah………………………………………………6
C. Tujuan…………………………………………………………..7
BAB II PEMBAHASAN
A. Awal peristiwa terjadinya G30S/PKI…………………………..8
B. Peristiwa terjadinya G30S/PKI...……………………………….9
C. penumpasan……………………………………………………..9
D. Dampak pasca peristiwa G30S/PKI……………………………10
E. Monumen peringatan…………………………………………...11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………..11
B. Daftar pustaka…………………………………………..………12
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar belakang
Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden – sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem “Demokrasi Terpimpin”. PKI menyambut “Demokrasi Terpimpin” Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Pada era “Demokrasi Terpimpin”, kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan 100.000 pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S. Pada awal tahun 1965 Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana mentri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan PKI. Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga menginfiltrasi polisi dan tentara denga slogan “kepentingan bersama” polisi dan “rakyat”. Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan “Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi”. Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari “sikap-sikap sektarian” kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat “massa tentara” subjek karya-karya mereka. Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak mereka atas hasutan PKI. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapapun (milik negara = milik bersama). Kemungkinan besar PKI meniru revolusi Bolsevik di Rusia, di mana di sana rakyat dan partai komunis menyita milik Tsar dan membagi-bagikannya kepada rakyat.
Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik Amerika Serikat. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jenderal-jenderal militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet. Jendral-jendral tersebut masuk kabinet karena jabatannya di militer oleh Sukarno disamakan dengan setingkat mentri. Hal ini dapat dibuktikan dengan nama jabatannya (Menpangab, Menpangad, dan lain-lain). Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis “rakyat”. Aidit memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang “perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para komunis”. Rezim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan NASAKOM. Tidak lama PKI mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk pembentukan rezim militer, menyatakan keperluan untuk pendirian “angkatan kelima” di dalam angkatan bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara. Mereka, depan jendral-jendral militer, berusaha menenangkan bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa “NASAKOMisasi” angkatan bersenjata dapat dicapai dan mereka akan bekerjasama untuk menciptakan “angkatan kelima”. Kepemimpinan PKI tetap berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia. Di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara sedang diubah untuk mengecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara. Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut. Pada tahun 1960 keluarlah Undang-Undang Pokok Agraria (UU Pokok Agraria) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UU Bagi Hasil) yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitia Agraria yang dibentuk pada tahun 1948. Panitia Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang mencerminkan
B. Rumusan Masalah
A. Kapan awal mula peristiwa G30S/PKI?
B. Peristiwa apa saja yang terjadi di G30S/PKI?
C. Kapan terjadinya penumpasan di G30S/PKI?
D. Apa saja dampak pasca peristiwa G30S/PKI?
E. Apa monumen peringatan setelah terjadi peristiwa G30S/PKI?
C. Tujuan
A. Dapat mengetahui kapan awal mula peristiwa G30S/PKI
B. Dapat mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi di G30S/PKI
C. Dapat mengetahui kapan terjadinya penumpasan di G30S/PKI
D. Dapat mengetahui apa saja dampak pasca peristiwa G30S/PKI
E. Dapat mengetahui apa monumen peringatan setelah terjadi peristiwa G30S/PKI
BAB II
PEMBAHASAN
A. Awal peristiwa terjadinya G30S/PKI
Pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965 secara berturut-turutRRI Jakarta menyiarkan berita penting.Sekitar pukul 7 pagi memuat berita bahwa pada hari Kamis
tanggal 30 September 1965 di Ibukota RI, Jakarta, telah terjadi “gerakan militer dalam AD “ yang dinamakan “ Gerakan 30 September”,
dikepalai oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan BatalionCakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno.
Sekitar pukul 13.00 hari itu juga memberitakan “ dekrit no 1”tentang “pembentukkan dewan revolusi Indonesia” dan “keputusanno.1” tentang “susunan dewan revolusi Indonesia”. Baru dalam siaran
kedua ini diumumkan susunan “komandan”, Brigjen Soepardjo, Letnan
Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut Soenardi, dan Ajun komisaris besar
polisi Anwas sebagai “wakil komandaan”.
Pada pukul 19.00 hari itu juga RRI Jakarta menyiarkan pidatoradio Panglima Komando TJadangan Strategis Angkatan Darat, MayorJendral Soeharto, yang menyampaikan bahwa gerakan 30 Septembertersebut adalah golongan kontra revolusioner yang telah menculikbeberapa perwira tinggi AD, dan telah mengambil alih kekuasaanNegara dari presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar revolusidan melempar Kabinet DWIKORA ke kedudukan demisioner.Latar belakang G30S/PKI perlu ditelusuri sejak masuknya paham komunisme/marxisme-leninisme ke Indonesia awal abat ke-206
,penyusupanya kedalam organisasi lain, serta kaitannya dengangerakan komunisme intenasional. Dalam hal-hal yang mendasar daripolitik PKI di Indonesia terbukti merupakan pelaksanaan perintah daripimpinan gerakan komunisme internasional.
Persiapan PKI:
1. khusus adalah merancang dan mempersiapkanperebutan kekuasan Membentuk biro khusus di bawah pimpinan Syam Kamaruzman.Tugas biro
2. Menuntut dibentuknya angkatan ke-5 yang terdiri atas buruh dantani yang dipersenjatai
3. Melakukan sabotase, aksi sepihak, dan aksi teror. Sabotaseterhadap transportasi kereta yang dilakukan aksi buruh kereta api( Januari-Oktober 1964 ) yang mengakibatkan serentetankecelakaan kereta api seperti di Purwokerto, Kroya, Tasikmalaya,Bandung, dan Tanah Abang. Aksi sepihak, misalnya Peristiwa Jengkol, Bandar Betsy, dan Peristiwa Indramayu. Aksi terormisalnya Peristiwa Kanigoro Kediri. Hal itu dilakukan sebagaipersiapan untuk melakukan kudeta
4. Melakukan aksi fitnah terhadap ABRI khususnya TNI-AD yangdianggap sebagai penghambat pelaksanaan programnya yaitudengan melancarkan isu dewan jendral.tujuanya untukmenghilangkan kepercayaan terhadap TNI-AD dan mengadudomba antara TNI-AD dengan presiden soekarno.
5. Melakukan latihan kemiliteran di lubang buaya pondok gede jakarta. Latihan kemiliteran di lubang buaya pondok gede jakarta latihan kemiliteran ini merupakan sarana persiapan untuk melakukan pemberontakan.
B. Peristiwa terjadinya G30S/PKI
Setelah persiapan dianggap matang oleh para pemimpin PKI,maka mereka menentukan pelaksanaannya yaitu 30 September.Gerakan untuk merebut kekuasaan dari pemerintah RI yang sah inididahului dengan penculikan dan pembunuhan terhadap jendral jendral TNI-AD yang dianggap anti PKI. Gerakan 30 September 1965dipimpin oleh Letnan Kolonel untung, Komandan Batalion I ResimenCakrabirawa, yaitu pasukan pengawal presiden. Gerakan ini dimulaipada dini hari, tanggal 1 Oktober dengan menculik dan membunuh 6
Perwira tinggi dan seorang perwira muda angkatan darat. Merekayang diculik dibunuh di Desa Lubang Buaya sebelah selatanPangkalan Udara Halim Perdana Kusuma oleh anggota-anggotapemuda rakyat Gerwani dan Ormas PKI yang lain. Ke-6 jendral yangdibunuh itu adalah Letnan Jendral Ahmad Yani, Mayor Jendral R.Suprapto, Mayor Jendral M. T. Haryono , Mayor Jendral S. Parman,Brigadir DI Panjaitan, Brigadir Jendral Soetoyo Siswomiharjo.Sementara itu gerakan 30 september telah berhasil menguasai 2sarana telekomunikasi yakni studio RRI dan kantor PN telekomunikasi.
C. Penumpasan
Dalam situasi yang tidak menentu pimpinan angkatan darat 8 diambil alih oleh Panglima Kostrad Mayor Jendral Soeharto. Iamelakukan konsolidasi pasukan TNI yang masih setia kepadapemerintahan. Dengan kekuatan ini, Mayor Jendral Soehartomelakukan serangkaian operasi penumpasan G30S/PKI. Setelahmerebut kembali stasiun telekomunikasi RRI, Mayor Jendral
Langkah selanjutnya adalah merebut Bandara Halim PerdanaKusuma yang diduga sebagai pusat Gerakan 30 September/PKI. Dalam waktu singkat tempat ini dapat dikuasai pasukan RPKADDari bukti-bukti yang telah dikumpulkan ABRI dan masyarakat menyimpulkan bahwa dibalik Gerakan 30 September/PKI ini telibatPKI. Maka dimulailah operasi pengejaran terhadap anggota PKI ini. Pada tanggal 1 Oktober 1965, beberapa tempat pentingseperti RRI dan Telkom telah dapat diambil alih oleh pasukanRPKAD tanpa pertumpahan darah.b. Pada hari yang sama, Mayjen Soeharto mengumumkan beberapa hal penting berikut melalui RRI
1. Penumpasan G 30 S/PKI oleh angkatan militer.
2. Dewan Revolusi Indonesia telah demisioner.
3. Menganjurkan kepada rakyat agar tetap tenang dan waspada c. Pada tanggal 2 Oktober 1965 pasukan RPKAD berhasil menguasai kembali Bandara Halim Perdana kusuma d. Pada tanggal 3 Oktober 1965, atas petunjuk anggota polisi yang bernama Sukitman berhasil ditemukan sumur tua yangdigunakan untuk menguburkan jenazah para perwira AD e. Pada tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para Jenderal ADdimakamkan dan mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi.
Untuk menumpas G30S/PKI di Jawa Tengah, diadakan operasimiliter yang dipimpin oleh Pangdam VII, Brigadir Suryo Sumpeno.Penumpasan di Jawa Tengah memakan waktu yang lama karenadaerah ini merupakan basis PKI yang cukup kuat dan sulitmengidentifikasi antara lawan dan kawan. Untuk mengikis sisa-sisa G30 S/PKI di beberapa daerah dilakukan operasi-operasi militer berikut. Operasi Merapi di Jawa Tengah oleh RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.b. Operasi Trisula di Blitar Selatan dipimpin Kolonel Muh. Yasindan Kolonel Wetermin. Akhirnya dengan berbagai operasi militer, pimpinan PKI D.N Aidit dapat ditembak mati di Boyolali dan Letkol Untung Sutopo ditangkap di Tegal
D. Dampak pasca peristiwa G30S/PK
Situasi politik semakin memanas bahkan mencekam karena10 tuntutan kepada pemerintah untuk membubarkan PKI belumterpenuhi.Keadaan ekonomi memburuk, rakyat mulai sulit mendapatkankebutuhan pokok.13 Januari 1966 harga bahan bakar minyak naik mengakibatkankenaikan harga barang dan jasa di segala bidang naik.
Kemudian terjadi devaluasi uang (1000) lama menjadi (1) baru.Berikut ini dampak sosial politik dari G 30 S/PKI:a. Secara politik telah lahir peta kekuatan politik baru yaitutentara AD.b. Sampai bulan Desember 1965 PKI telah hancur sebagaikekuatan politik di Indonesia.c. Kekuasaan dan pamor politik Presiden Soekarno memudar.d. Secara sosial telah terjadi penangkapan dan pembunuhanterhadap orang-
orang PKI atau”dianggap PKI”, yang tidak
semuanya melalui proses pengadilan dengan jumlah yangrelatif banyak.
E. Monumen peringatan
Sesudah kejadian tersebut, 30 September diperingati sebagai HariPeringatan Gerakan 30 September. Hari berikutnya. 1 Oktober,ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada masapemerintahan Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadiantersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesiasetiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa. 11 Soeharto biasanya dilakukan upacara bendera di Monumen PancasilaSakti di Lubang Buaya dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makampara pahlawan revolusi di TMP Kalibata. Namun sejak era Reformasi
bergulir, film itu sudah tidak ditayangkan lagi dan hanya tradisi taburbunga yang dilanjutkan.Pada 29 September - 4 Oktober 2006, diadakan rangkaian acaraperingatan untuk mengenang peristiwa pembunuhan terhadap ratusanribu hingga jutaan jiwa di berbagai pelosok Indonesia. Acara yangbertajuk "Pekan Seni Budaya dalam rangka memperingati 40 tahuntragedi kemanusiaan 1965" ini berlangsung di Fakultas Ilmu BudayaUniversitas Indonesia, Depok. Selain civitas academica UniversitasIndonesia, acara itu juga dihadiri para korban tragedi kemanusiaan1965, antara lain Setiadi, Murad Aidit, Haryo Sasongko, dan Putmainah
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
alam waktu yang singkat G30S/PKI gagal dalam usahanyamengganti dasar negara pancasila dengan komunis. Hal inimenunjukan bahwa pancasila memang kokoh, itulah sebabnyatanggal 1 Oktober 1965 merupakan titik tolak kehancuran G30S/PKIdan kemenangn pancasila dijadikan sebagai hari kesaktian pancasila
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September
http://anggiewidya.wordpress.com/2012/03/01/peristiwa-g30spki/
http://handikap60.blogspot.com/2013/01/peristiwa-g-30-spki-tahun-1965.html
http://www.indonesiakaya.com/see/read/2012/01/24/890/20006/1/Monumen-Pancasila-Sakti-Saksi-Bisu-Peristiwa-G30SPKI
G30S/PKI
Dosen pengampuh: Ratna khairunnisa, S.Pd.,M.Pd
Disusun oleh:
Kelompok 7 : 1. Khairunnisa putri song
2. Nur fitriayani
3.Yefi alisa
4.Dalfian
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran tuhan yang maha esa karena atas kelimpahan rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul”G30S/PKI” tidak lupa kami juga mengucapkan banyak teerimakasih atas bantuan pihak yang telah berkontrubusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pemikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dari makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
Kata pengatar……………………………………………………………1
Daftar isi………………………………………………………………...2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang………………………………………………….3
B. Rumusan masalah………………………………………………6
C. Tujuan…………………………………………………………..7
BAB II PEMBAHASAN
A. Awal peristiwa terjadinya G30S/PKI…………………………..8
B. Peristiwa terjadinya G30S/PKI...……………………………….9
C. penumpasan……………………………………………………..9
D. Dampak pasca peristiwa G30S/PKI……………………………10
E. Monumen peringatan…………………………………………...11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………..11
B. Daftar pustaka…………………………………………..………12
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar belakang
Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden – sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem “Demokrasi Terpimpin”. PKI menyambut “Demokrasi Terpimpin” Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Pada era “Demokrasi Terpimpin”, kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan 100.000 pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S. Pada awal tahun 1965 Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana mentri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Tetapi petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan PKI. Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga menginfiltrasi polisi dan tentara denga slogan “kepentingan bersama” polisi dan “rakyat”. Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan “Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi”. Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari “sikap-sikap sektarian” kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat “massa tentara” subjek karya-karya mereka. Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak mereka atas hasutan PKI. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapapun (milik negara = milik bersama). Kemungkinan besar PKI meniru revolusi Bolsevik di Rusia, di mana di sana rakyat dan partai komunis menyita milik Tsar dan membagi-bagikannya kepada rakyat.
Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik Amerika Serikat. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jenderal-jenderal militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet. Jendral-jendral tersebut masuk kabinet karena jabatannya di militer oleh Sukarno disamakan dengan setingkat mentri. Hal ini dapat dibuktikan dengan nama jabatannya (Menpangab, Menpangad, dan lain-lain). Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis “rakyat”. Aidit memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang “perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para komunis”. Rezim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan NASAKOM. Tidak lama PKI mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk pembentukan rezim militer, menyatakan keperluan untuk pendirian “angkatan kelima” di dalam angkatan bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara. Mereka, depan jendral-jendral militer, berusaha menenangkan bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa “NASAKOMisasi” angkatan bersenjata dapat dicapai dan mereka akan bekerjasama untuk menciptakan “angkatan kelima”. Kepemimpinan PKI tetap berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia. Di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara sedang diubah untuk mengecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara. Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut. Pada tahun 1960 keluarlah Undang-Undang Pokok Agraria (UU Pokok Agraria) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UU Bagi Hasil) yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitia Agraria yang dibentuk pada tahun 1948. Panitia Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang mencerminkan
B. Rumusan Masalah
A. Kapan awal mula peristiwa G30S/PKI?
B. Peristiwa apa saja yang terjadi di G30S/PKI?
C. Kapan terjadinya penumpasan di G30S/PKI?
D. Apa saja dampak pasca peristiwa G30S/PKI?
E. Apa monumen peringatan setelah terjadi peristiwa G30S/PKI?
C. Tujuan
A. Dapat mengetahui kapan awal mula peristiwa G30S/PKI
B. Dapat mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi di G30S/PKI
C. Dapat mengetahui kapan terjadinya penumpasan di G30S/PKI
D. Dapat mengetahui apa saja dampak pasca peristiwa G30S/PKI
E. Dapat mengetahui apa monumen peringatan setelah terjadi peristiwa G30S/PKI
BAB II
PEMBAHASAN
A. Awal peristiwa terjadinya G30S/PKI
Pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965 secara berturut-turutRRI Jakarta menyiarkan berita penting.Sekitar pukul 7 pagi memuat berita bahwa pada hari Kamis
tanggal 30 September 1965 di Ibukota RI, Jakarta, telah terjadi “gerakan militer dalam AD “ yang dinamakan “ Gerakan 30 September”,
dikepalai oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan BatalionCakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno.
Sekitar pukul 13.00 hari itu juga memberitakan “ dekrit no 1”tentang “pembentukkan dewan revolusi Indonesia” dan “keputusanno.1” tentang “susunan dewan revolusi Indonesia”. Baru dalam siaran
kedua ini diumumkan susunan “komandan”, Brigjen Soepardjo, Letnan
Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut Soenardi, dan Ajun komisaris besar
polisi Anwas sebagai “wakil komandaan”.
Pada pukul 19.00 hari itu juga RRI Jakarta menyiarkan pidatoradio Panglima Komando TJadangan Strategis Angkatan Darat, MayorJendral Soeharto, yang menyampaikan bahwa gerakan 30 Septembertersebut adalah golongan kontra revolusioner yang telah menculikbeberapa perwira tinggi AD, dan telah mengambil alih kekuasaanNegara dari presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar revolusidan melempar Kabinet DWIKORA ke kedudukan demisioner.Latar belakang G30S/PKI perlu ditelusuri sejak masuknya paham komunisme/marxisme-leninisme ke Indonesia awal abat ke-206
,penyusupanya kedalam organisasi lain, serta kaitannya dengangerakan komunisme intenasional. Dalam hal-hal yang mendasar daripolitik PKI di Indonesia terbukti merupakan pelaksanaan perintah daripimpinan gerakan komunisme internasional.
Persiapan PKI:
1. khusus adalah merancang dan mempersiapkanperebutan kekuasan Membentuk biro khusus di bawah pimpinan Syam Kamaruzman.Tugas biro
2. Menuntut dibentuknya angkatan ke-5 yang terdiri atas buruh dantani yang dipersenjatai
3. Melakukan sabotase, aksi sepihak, dan aksi teror. Sabotaseterhadap transportasi kereta yang dilakukan aksi buruh kereta api( Januari-Oktober 1964 ) yang mengakibatkan serentetankecelakaan kereta api seperti di Purwokerto, Kroya, Tasikmalaya,Bandung, dan Tanah Abang. Aksi sepihak, misalnya Peristiwa Jengkol, Bandar Betsy, dan Peristiwa Indramayu. Aksi terormisalnya Peristiwa Kanigoro Kediri. Hal itu dilakukan sebagaipersiapan untuk melakukan kudeta
4. Melakukan aksi fitnah terhadap ABRI khususnya TNI-AD yangdianggap sebagai penghambat pelaksanaan programnya yaitudengan melancarkan isu dewan jendral.tujuanya untukmenghilangkan kepercayaan terhadap TNI-AD dan mengadudomba antara TNI-AD dengan presiden soekarno.
5. Melakukan latihan kemiliteran di lubang buaya pondok gede jakarta. Latihan kemiliteran di lubang buaya pondok gede jakarta latihan kemiliteran ini merupakan sarana persiapan untuk melakukan pemberontakan.
B. Peristiwa terjadinya G30S/PKI
Setelah persiapan dianggap matang oleh para pemimpin PKI,maka mereka menentukan pelaksanaannya yaitu 30 September.Gerakan untuk merebut kekuasaan dari pemerintah RI yang sah inididahului dengan penculikan dan pembunuhan terhadap jendral jendral TNI-AD yang dianggap anti PKI. Gerakan 30 September 1965dipimpin oleh Letnan Kolonel untung, Komandan Batalion I ResimenCakrabirawa, yaitu pasukan pengawal presiden. Gerakan ini dimulaipada dini hari, tanggal 1 Oktober dengan menculik dan membunuh 6
Perwira tinggi dan seorang perwira muda angkatan darat. Merekayang diculik dibunuh di Desa Lubang Buaya sebelah selatanPangkalan Udara Halim Perdana Kusuma oleh anggota-anggotapemuda rakyat Gerwani dan Ormas PKI yang lain. Ke-6 jendral yangdibunuh itu adalah Letnan Jendral Ahmad Yani, Mayor Jendral R.Suprapto, Mayor Jendral M. T. Haryono , Mayor Jendral S. Parman,Brigadir DI Panjaitan, Brigadir Jendral Soetoyo Siswomiharjo.Sementara itu gerakan 30 september telah berhasil menguasai 2sarana telekomunikasi yakni studio RRI dan kantor PN telekomunikasi.
C. Penumpasan
Dalam situasi yang tidak menentu pimpinan angkatan darat 8 diambil alih oleh Panglima Kostrad Mayor Jendral Soeharto. Iamelakukan konsolidasi pasukan TNI yang masih setia kepadapemerintahan. Dengan kekuatan ini, Mayor Jendral Soehartomelakukan serangkaian operasi penumpasan G30S/PKI. Setelahmerebut kembali stasiun telekomunikasi RRI, Mayor Jendral
Langkah selanjutnya adalah merebut Bandara Halim PerdanaKusuma yang diduga sebagai pusat Gerakan 30 September/PKI. Dalam waktu singkat tempat ini dapat dikuasai pasukan RPKADDari bukti-bukti yang telah dikumpulkan ABRI dan masyarakat menyimpulkan bahwa dibalik Gerakan 30 September/PKI ini telibatPKI. Maka dimulailah operasi pengejaran terhadap anggota PKI ini. Pada tanggal 1 Oktober 1965, beberapa tempat pentingseperti RRI dan Telkom telah dapat diambil alih oleh pasukanRPKAD tanpa pertumpahan darah.b. Pada hari yang sama, Mayjen Soeharto mengumumkan beberapa hal penting berikut melalui RRI
1. Penumpasan G 30 S/PKI oleh angkatan militer.
2. Dewan Revolusi Indonesia telah demisioner.
3. Menganjurkan kepada rakyat agar tetap tenang dan waspada c. Pada tanggal 2 Oktober 1965 pasukan RPKAD berhasil menguasai kembali Bandara Halim Perdana kusuma d. Pada tanggal 3 Oktober 1965, atas petunjuk anggota polisi yang bernama Sukitman berhasil ditemukan sumur tua yangdigunakan untuk menguburkan jenazah para perwira AD e. Pada tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para Jenderal ADdimakamkan dan mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi.
Untuk menumpas G30S/PKI di Jawa Tengah, diadakan operasimiliter yang dipimpin oleh Pangdam VII, Brigadir Suryo Sumpeno.Penumpasan di Jawa Tengah memakan waktu yang lama karenadaerah ini merupakan basis PKI yang cukup kuat dan sulitmengidentifikasi antara lawan dan kawan. Untuk mengikis sisa-sisa G30 S/PKI di beberapa daerah dilakukan operasi-operasi militer berikut. Operasi Merapi di Jawa Tengah oleh RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.b. Operasi Trisula di Blitar Selatan dipimpin Kolonel Muh. Yasindan Kolonel Wetermin. Akhirnya dengan berbagai operasi militer, pimpinan PKI D.N Aidit dapat ditembak mati di Boyolali dan Letkol Untung Sutopo ditangkap di Tegal
D. Dampak pasca peristiwa G30S/PK
Situasi politik semakin memanas bahkan mencekam karena10 tuntutan kepada pemerintah untuk membubarkan PKI belumterpenuhi.Keadaan ekonomi memburuk, rakyat mulai sulit mendapatkankebutuhan pokok.13 Januari 1966 harga bahan bakar minyak naik mengakibatkankenaikan harga barang dan jasa di segala bidang naik.
Kemudian terjadi devaluasi uang (1000) lama menjadi (1) baru.Berikut ini dampak sosial politik dari G 30 S/PKI:a. Secara politik telah lahir peta kekuatan politik baru yaitutentara AD.b. Sampai bulan Desember 1965 PKI telah hancur sebagaikekuatan politik di Indonesia.c. Kekuasaan dan pamor politik Presiden Soekarno memudar.d. Secara sosial telah terjadi penangkapan dan pembunuhanterhadap orang-
orang PKI atau”dianggap PKI”, yang tidak
semuanya melalui proses pengadilan dengan jumlah yangrelatif banyak.
E. Monumen peringatan
Sesudah kejadian tersebut, 30 September diperingati sebagai HariPeringatan Gerakan 30 September. Hari berikutnya. 1 Oktober,ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada masapemerintahan Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadiantersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesiasetiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa. 11 Soeharto biasanya dilakukan upacara bendera di Monumen PancasilaSakti di Lubang Buaya dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makampara pahlawan revolusi di TMP Kalibata. Namun sejak era Reformasi
bergulir, film itu sudah tidak ditayangkan lagi dan hanya tradisi taburbunga yang dilanjutkan.Pada 29 September - 4 Oktober 2006, diadakan rangkaian acaraperingatan untuk mengenang peristiwa pembunuhan terhadap ratusanribu hingga jutaan jiwa di berbagai pelosok Indonesia. Acara yangbertajuk "Pekan Seni Budaya dalam rangka memperingati 40 tahuntragedi kemanusiaan 1965" ini berlangsung di Fakultas Ilmu BudayaUniversitas Indonesia, Depok. Selain civitas academica UniversitasIndonesia, acara itu juga dihadiri para korban tragedi kemanusiaan1965, antara lain Setiadi, Murad Aidit, Haryo Sasongko, dan Putmainah
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
alam waktu yang singkat G30S/PKI gagal dalam usahanyamengganti dasar negara pancasila dengan komunis. Hal inimenunjukan bahwa pancasila memang kokoh, itulah sebabnyatanggal 1 Oktober 1965 merupakan titik tolak kehancuran G30S/PKIdan kemenangn pancasila dijadikan sebagai hari kesaktian pancasila
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September
http://anggiewidya.wordpress.com/2012/03/01/peristiwa-g30spki/
http://handikap60.blogspot.com/2013/01/peristiwa-g-30-spki-tahun-1965.html
http://www.indonesiakaya.com/see/read/2012/01/24/890/20006/1/Monumen-Pancasila-Sakti-Saksi-Bisu-Peristiwa-G30SPKI
Komentar
Posting Komentar