Masa penjajahan kolonial eropa dan jepang. Kelompok v
MAKALAH
MASA PENJAJAHAN KOLONIAL EROPA DAN JEPANG
KONSEP DASAR SEJARAH
Dosen Pengampu : Ratna Khairunnisa, S. Pd., M. Pd
DISUSUN OLEH:
1. Linda Lega ( 1986206123 )
2. Citra Ayu Lestari ( 1986206003 )
3. Fransiska Ayu Rosita S.BR ( 1986206129 )
4. Novie Anitha (1986206152)
5. Qurrotul A’yuni (1986206035)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur allah swt karna atas rahmat yang telah di berikan kepada, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MasaPenjajahan Kolonial Eropa dan Jepang Konsep2 Dasar Sejarah”tepat pada waktunta. Makalah ini merupakantugas mata kuliah “ Konsep Dasar Sejarah”
Harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, menambah wawasan, pengalaman dan pedoman untuk kita semua. Sebagai penulis kami mengakui bahwasanya masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh sebab itu dengan kerendahan hati kami berharap para pembaca untuk memberikan kritik dan saran agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Apabila ada salah dalam penulisan kata maupun kalimat kami mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besar nya, terima kasih.
Samarinda,17 maret 2020
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Masuknya Bangsa Eropa Ke Indonesia 4
2.2 Sejarah Masuknya Kolonial jepang 13
2.3 Masa Penjajahan Eropa Dan Jepang 15
2.3.1 Spanyo 15
2.3.2 Tujuan Portugis Datang Ke Indonesia 16
2.3.3 Pengaruh Portugis Di Nusantara 17
2.3.4 Kebijakan Kerajaan Portugis Di Indonesia 17
2.4 Jepan 19
2.4.1 Kekuasaan Jepang Di Indonesia 19
2.4.2 Menyerahnya Jepang Kepada Sekutu 21
2.5 Masa Penjajahan Belanda Di Indonesia 25
2.5.1 Politik Kolonial Liberal (1870-1900) 26
2.5.2 Politik Kolonial Etis (1900-1942) 28
2.5.3 Penerapan Politik Etis 29
2.5.4 Pendidikan Rakyat Pribumi 30
2.6 Sejarah Penjajahan Inggris Di Indonesia 33
2.6.1 Pemerintahan Thomas S. Raffles 35
2.6.2 Kebijakan Pemerintahan Thomas S. Raffles 36
2.6.3 Berakhirnya Kekuasaan Thomas S. Raffles 40
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Kesimpulan 41
3.2 Saran 41
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Sebagai sebuah Negara yang berada di timur dunia, Indonesia memiliki kekayaan yang sangat melimpah. Kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini sangat menggiurkan bangsa lain untuk menduduki dan menjajah bangsa Indonesia untuk mendapatkan keuntungan yang melimpah dari hasil bumi Indonesia yang berupa rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh bangsa Eropa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum bangsa Eropa mendapatkan pasokan rempah-rempah dari pedagang Arab yang kemudia di beli oleh para pedagang dari Alexandria, Italia, dan lain-lain yang kemudian disalurkan keseluruh Eropa sampai ke Erpa Utara dan Selatan sejak runtuhnya konstantinopel dan putusnya hubungan antar Negara konstantinopel dengan Negara Eropa pasokan rempah-rempah yang biasanya disuplai oleh pedagang Arab ini menjadi langka dan banyak dicari oleh warga Eropa.
Sebab tersebut yang melatarbelakangi bangsa Eropa mulai untuk melakukan ekspedisi untuk mencari jalur menemukan tempat yang dapat memenuhi permintaan rempah-rempah yang kurang di Eropa saat ini. Sehingga mulailah beberapa ekspedisi yang dilakukan oleh beberapa Negara. Hingga pada tahun 1497 vasco da gama berhasil mencapai kalkuta di pantai barat India. Kalkuta saat itu menjadi Bandar utama sutera, kayu manis, porselen, cengkeh, pala, lada, kemenyan dan barang dagang lainnya. Pada bulan april 1511, Albuquerque melakukan pelayaran dari Goa menuju malaka dengan kekuatan kira-kira 1200 orang dan 17 buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang bulan juli hingga awal Agustus.
Jejak keberhasilan portugis ini terdengar ke beberapa Negara eropa salah satunya ialah Negara Spanyol. Spanyol yang mulanya bukan Negara maritim ikut mengeluarkan seseorang untuk melakukan ekspedisi untuk mencari jalan menuju India. Hingga ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magelhaen pada tnggal 17 April 1521 telah sampai di Pulau Cebu.
Bukan hanya Spanyol yang tertarik dengan kabar berita yang menyebutkan keberhasilan portugis dalam mendapatkan rempah-rempah yang melimpah, akan tetapi beita ini juga menarik perhatian dari negar Belanda. Hingga Cornelis de Houtman pada tahun 1596, hingga ia mendarat di Indonesia tepatnya ke daerah Banten.Dari Banten, Cornelis melanjutkan perjalanannya ke tiap pusat rempah-rempah di Maluku. Sejak saat itu para bangsawan Belanda banyak berdatangan ke Indonesia agar tidak terjadi persaingan antar sesama pedagag belanda, maka pada tahun 1602 didirikan perserikatan perusahaan Hindia Timur atau Vereenigde Ooost-Indische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Gubernur Jendral Pieter Both.
Selain bangsa Eropa di atas, Jepang juga berambisi untuk menguasai dunia dengan segala pahamnya yang dimulai dengan membangun imperium di wilayah Asia terutama Asia Timur dan Asia Tenggara yang dianggap makmur dan strategis termasuk Indonesia. Untuk mewujudkan ambisinya, Jepang harus melenyapkan penghalangnya yakni Amerika Serikat dan sekutunya termasuk Belanda.
1.2Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis dapat menarik sebuah rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah kedatangan bangsa asing di Indonesia ?
2. Bagaimana masa penjajahan banga Eropa di Indonesia?
3. Bagaimana masa penjajahan Jepang Indonesia?
1.3Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah kedatangan bangsa asing di Indonesia
2. Untuk mengetahui masa penjajahan bangsa Eropa di Indonesia
3. Untuk mengetahui masa penjajahan jepang di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Masuknya Bangsa Eropa Ke Indonesia
Pada tahun 1453 orang-orang Turki Ottoman menaklukan Konstantinopel, namun bila dibandingkan dengan orang-orang Eropa telah mengalami perkembangan teknologi dengan pesat sehingga memberikan pengaruh bagi bangsa Portugis untuk mengaruni Samudera diman hal ini merupakan suatu petualangan yang paling berani sepanjang zaman hanya deengan berbekal pengetahuan geografis, astronomi dan arsitektur perahu.
Selain didukung oleh perkdmbangan teknologi yang mendukung untuk melakukan ekspansi ke seberang lautan mereka juga memiliki tekad dan kepentingan-kepentingan khusus. Atas dorongan Pangeran Henry dan para peli’ndung lainnya, para pelaut dan petualang Portugis memulai pencarian panjang mereka menyusuri pantai barat Afrika untuk mencari emas, memenangi pertempuran, dan meraih jalan untuk mengepung lawan yang beragama islam. Mereka juga berusaha mendapatkan jalan ke Asia dengan tujuan memotong jalur pelayaran para pedagang Islam yang melalui yang melalui tempa penjualan mereka di Venesia (Mediterania), momonopoli impor rempah-rempah ke Eropa Karena rempah-rempah merupakan soal kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin orang-orang Eropa, tidak adap satupun cara untuk yang dapat dilakukan agar daging hewan ternak mereka dapat bertahan lama pada musim dingin. Hal tersebut dapa dilakukan dengan campuran rempah-rempa. Dimana asal rempah –rempah tersebut diimpor dari kawasan Asia tenggara termasuk Indonesia seperti cengkih.
Ketenaran kawasan Asia Tenggara yang kaya akan rempah-rempah sehingga memberikan hasrat yang tinggi bagi orang-orang Eropa untuk dapat menguasai. Setelah mendengar laporan dari pedagang Asia mengenai kekayaan Malaka yang sangat besar, maka Raja Portugis mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan Malaka, menjamin hubungan persahabatan dengan penguasanya, dan menetap di sana sebagai wakil Portugis di sebelah timur India. Tugas Sequeira tersebut tidak mungkin terlaksana seluruhnya ketika dia tiba di Malaka pada tahun 1509. Pada mulan kedantangannya disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah tetapi kemudian komunitas dagang Islam internasional yang tinggal di kota tersebut meyakinkan Sultan Mahmud Syah bahwa Portugis merupakan ancaman besar baginya, akhirnya ia berbalik melawan Portugis.
Pada bulan April 1511. Alberqueque melakukan pelayaran dari Goa Portugis menuju Malaka dengan kekuatan kira-kira 1.200 orang dan 17 atau 18 buah kapal. Peperangan pecah segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis sepanjang bulan Juli dan awal Agustus. Pihak Malaka terhambat pertikaian sengit antara Sultan Mahmud dan Putranya Sultan Ahmad. Hingga pada akhirnya kekalah bera di pihak Malaka, namun perlu diperhatikan juga bahwa Malaka mulai sekarat sebagai pelabuhan dagang selama berada di bawah cengkraman Portugis, karena mereka tidak pernah berhasil memonopoli perdangangan Asia. Mereka hanya punya sedikit sedikit pengaruh terhadap kebudayaan orang-orang Indonesia yang tinggal di Nusantara bagian Barat, dan segera merak menjadi bagianyang asing di lingkungan Indonesia.
Sultan Ternate Abu Lais membujuk bangsa Portugis untuk mendukungnya, dan pada tahun 1522, mereka mulai membangun sebuah benteng. Sultan Mansur dari Tidore mengambil keuntungan dari kedatangan sisa-sisa ekspedisi pelayaran keliling dunia Magellan di tahun 1521 untuk membentuk satu persekutuan dengan bangsa Spanyol yang bagaimanapun, tidak memberikan banyak hasil dari periode ini.
Hubungan Portugis dan Ternate berubah menjadi tegang karena upaya Portugis melakukan kristenisasi dan karena prilaku tidak sopan dari orang-orang Portugis sendiri pada umumnya. Pada tahun 1535, orang-orang Portugis di Ternate menurunkan Raja Tabariji dan mengirimnya ke Gowa yang dikuasai Portugis yang kemudian membaptisnya sehingga dia masuk agama Kristen. Namun sejarah portugis di maluku tidak berujung baik, karena terjadi suatu peristiwa yaitu pembunuhan Sultan Hairun pada tahun 1570 oleh orang-orang Portugis, sehingga mereka diusir secara paksa dari Ternate pada tahun 1575 setelah terjadi pengepungan selama lima tahun.
Pengusiran tersebut membawa Portugis ke Tidore dan membangun Benteng baru pada tahun 1578. Akan tetapi Ambonlah yang menjadi pusat utama kegiatan-kegiatan Portugis di Maluku. Ternate sementara itu menjadi sebuah negara yang gigih menganut Islam dan anti Portugis di bawah pemerintahan Sultan Baabullah dan Putranya Sultan ad-Din Berkat Syah.
Pada periode ini terjadi berbagai peperangan dan misionisasi dari orang-orang Portugis bagi mereka yang kalah dalam peperangan melawan Portugis terutama bagi raja yang ditaklukinya pembaptisan adalah kegiatan yang dilakukan kepada mereka yang ditakluki, karena hal ini merupakan salah satu tujuan awal mereka selain memonopoli rempah-rempah.
Kedatangan Bangsa Portugis ke tanah Nusantara yang membawa misi Perang Salib dan monopoli rempah-rempah namun tindakan mereka tentu mendapat tanggapan yang kurang baik, karena sebelum kedatangan mereka Nusantara sebagian besar telah memeluk Islam bahkan terjadi suatu konflik kekuasaan yang didapatkan reaksi dari raja-raja Nusantara. Setelah bangsa Portugis kemudian datang orang-orang Belanda yang mewarisi aspirasi-aspirasi dan strategi Portugis. Orang-orang Belanda membawa organisasi, persenjataan, kapal-kapal, dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberanian dan kekejaman yang sama.
Perang kemerdekaan Belanda melawan Spanyol pada tahun 1560-an dan berakhir pada tahun 1648, dimana karena perang tersebut memberikan pengaruh besar dimana pasaca perang tersebut orang-orang Belanda telah bertindak sebagai perantara dalam penjualan rempah-rempah secara eceran dari Portugis ke Eropa bagian utara, tetapi karena perang kemerdekaan tesebut, ditambah dengan bersatunya tahta Spanyol dan Portugal pada tahun 1850, yang mengakibatkan mengacaukan jalur orang-orang Belanda untuk mendapatkan rempah-rempah yang dibawa dari Asia oleh orang-orang Portugis.
Pada tahun 1595, ekspedisi Belanda yang pertama siap berlayar ke Hindia Timur. Sebanyak 4 buah kapal dengan 249 awak dan 64 pucuk meriam berangkat di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada tahun 1596, kapal-kapal de Houtman tiba di Banten, pelabuhan lada de terbesar di Jawa Barat. Di sana orang-orang Belanda segera terlibat dalam konflik, baik dengan orang-orang Portugis maupun dengan orang-orang pribumi, hingga pada akhirnya de Houtman meninggalkan Banten dan berlayar ke timur dengan menyusuri pantai utara Pulau Jawa, sambil melakukan banyak penghinaan dan menyebabkan kerugian yang besar di setiap pelabuhan yang dikunjunginya.
Pada zaman yang dikenal sebagai zaman pelayaran liar (wilde vaart), yaitu ketika perusahaan-perusahaan ekspedisi Belanda yang saling berasaing dan berjuang keras untuk memperoleh bagian dari rempah-rempah Indonesia. Pada tahun 1599 armada yang dipimpin oleh Jacob van Neck tiba di Maluku, diman rombongan tesebut diterima dengan baik sehingga ketika armada tersbut kembali ke negara asalnya dimana kapal-kapalnya mengengkut cukup banyak rempah-rempah yang menghasilkan keuntungan besar 400 persen.
Sebelumnya pada tahun 1598 Parlemen Belanda (staten general) mengajukan sebuah ulasan supaya perseroan-perseroan yang saling bersaing sebaiknya menggabungkan kepentingan mereka masing-masing ke dalam satu fusi dimana hal tersebut dapat terwujud dalam waktu empat tahun. Pada bulan Maret 1602, perseroan-perseroan yang saling bersaing bergabung membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur, VOC (Vereening-de oost-Indische Compagnie). Pada tahun-tahun pertama, Heeren XVII menangani sendiri segala urusan VOC, tetapi segera disadari bahwa mereka tidak mungkin mengelola dengan baik pelaksanaan tugas harian di Asia. Jarak kawasan yang sangat jauh sehingga pertukaran berita antara Amsterdam dan Indonesia dapat memakan waktu dua atau tiga tahun sehingga dibentuklah cabang VOC yang berada di Ambon (Indonesia).
Orang-orang Portugis yang lebih dulu berada di Ambon mendapatkan tekanan berat yang dilancarkan oleh musuh-musuh lokal mereka pada akhir abad XVII, namun dengan kedatangan orang-orang Belanda yang juga menginginkan daerah tersebut, sehingga Belanda memanfaatkan situasi tersebut, yaitu dengan membantu Hitu yang tak lain adalah musuh dari Portugis. Akhirnya, orang-orang Portugis menyerah yang berlanjut dengan VOC menduduki benteng Portugis di Ambon, mengganti namanya dengan Victoria.
Meskipun sudah mendapatkan keberhasilan di Ambon, tetapi orang-orang Belanda masih jauh dari tujuan mereka yaitu memonopoli semua rempah-rempah sehingga harus dilakukan langkah-langkah yang lebih keras, sehingga pada tahun 1610 diciptakan jabatan Gubernur Jenderal, sedangkan untuk mencegah kemungkinan kekuasaan Gubernur Jenderal yang despotis, maka dibentulah Dewan Hindia (Raad van Indie) untuk menasehati dan mengawasinya.
Kebutuhan markas besar yang permanen di Nusantara bagian barat semakin terasa dengan meningkatnya ancaman persaingan dari pihak Inggris yang juga ikut dalam melangsungkan perdagangan rempah-rempah. Selama 1611-1617, orang-orang Inggris juga mendirikan kantor-kantor dagang mereka di Indonesia diantaranya di Sukadana, Makasar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi. Konflik Inggris-Belanda semakin memuncak ketika orang-orang Belanda merasa bahwa cita-cita monopoli mereka telah luput.
Pada awal abad XVII pihak VOC mendapatkan ancaman militer lebih kecil dari pihak Inggris dibandingkan dengan pihak Portugis dan Spanyol. Namun demikian, kegiatan-kegiatan Inggris telah memperbesar keinginan VOC untuk mendapatkan suatu pusat pertemuan. Kegiatan orang-orang Inggris tersebut juga memberikan kesan kepada VOC tentang perlu ditingkatkannya langkah-langkah yang keras apabila mereka ingin mencapai tujuan untuk memonopoli rempah-rempah, pada tahun 1619 Jan Pieterzoen Coen menjadi Gubernur Jenderal dan dialah yang menempatkan VOC pada suatu tempat berpijak yang kokoh dimana cara kekerasan dilakukan olehnya yaitu melalui peperangan untuk dapat menguasai perdagangan.
Akibat kebijakan Coen sehingga terjadi peperangan di berabagai kawasan Nusantara dan mengakibatkan banyak korban bagi kaum pribumi, namun karena kebijakannya Belanda besahasil mewujudkan apa yang diinginkannya yaitu memonopoli rempah-rempah. Selain itu Coen juga mendapatkan pusat pertemuan untuk VOC, dimana Coen lebih menyukai Jayakarta untuk dijadikan sebagai markas besar VOC yang permanen. Tempat ini memiliki pelabuhan yang sangat bagus, yang telah dipuji oleh Tome Pires satu abad sebelumnya sebagai salah satu pelabuhan terbaik di Jawa, dan Coen mengira bahwa VOC dapat berkuasa sepenuhnya di sana. Jayakarta diperintah oleh seorang Pangeran Muslim bernama Pangeran Wijayakrama yang merupakan vasal Banten. Terjadi ketegangan antara Jayakarta dan Banten, dimana orang-orang Belanda maupun Inggris terlibat di dalamnya.
Pada bulan Desember 1618, Banten mengambil keputusan untuk menaklukan Jayakarta dan VOC. Laksamana Inggris, Thomas Dale, didesak untuk pergi ke Jayakarta untuk mengusir orang-orang Belanda yang ada di sana. Di pelabuhan Dale di hadang oleh Coen, namun Dale dapat memukul mundur Coen dan armadanya. Kemudian Dale dan Wijayakrama bersama-sama mengepung benteng Belanda. Ketika personil VOC mengambil keputusan untuk menyerah pada akhir Januari 1619, secara tiba-tiba muncul balatentara Banten menghalangi maksud mereka. Karena Banten tidak ingin pos VOC yang mneyusahkan itu digantikan oleh pos Inggris yang tentunya juga sama akan menyusahkan bagi Banten. Sehingga terjadi petempuran yang mengakibatkan kekalahan di pihak Thomas Dale dan Wijayakrama, dan akhirnya VOC tetap menduduki pos mereka sedangkan balatentara Banten menduduki kota. Kemdian pada tanggal 12 Maret 1619 Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia yang diambil dari nama suku bangsa Jerman Kuno di Negeri Belanda.
Pada tanggal 30 Mei 1619, Coen menyerang kota, meratakannya dengan tanah, dan memukul mundur tentara Banten. Pada akhirnya Jayakarta menjadi markas besar kerajaan niaga voc yang luas, dimana VOC dapat membangun pusat militer dan administrasi di tempat yang relatif aman bagi pergudangan dan pertukaran barang, yang terletak di Nusantara bagian barat dan mudah mencapai jalur-jalur perdagangan ke Indonesia Timur, Timur Jauh, dan Eropa.
Akan tetapi, timbul pula dampak-dampak yang kurang menguntungkan bagi VOC, pendudukan permanen atas Batavia memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk mengelolanya. Meskipun jumlah penduduknya yang berkebangsaan Eropa tidak banyak, namun kota tersebut berkembang pesat ketika orang-orang Indonesia dan terutama orang-orang Cina pindah ke sana untuk mengejar keuntungan perdagangan yang ditawarkan Batavia bagi mereka. Penduduk ini perlu diberi makan, yang berarti bahan makanan harus diimpor, dan sumber terdekatnya ialah pantai utara Jawa dan juga mengantisipasi dari serangan-serangan yang mungkin terjadi seperti Banten di Barat dan Mataram di timur. Batavia merupakan penyebab utama merosotnya kondisi keuangan VOC. Kota ini juga menjadi landasan bagi berkembangnya pemerintahan Belanda di Jawa nanti. Tetapi tentu saja hanya setelah menimbulkan banyak pertumpahan darah dan kesulitan.
2.2SEJARAH MASUKNYA KOLINAL JEPANG
Pada bulan Januari-februari Tahun 1942, Jepang melakukan penaklukan terhadap Asia Tenggara. Memasuki Nusantara, Jepang memberikan bantuan kepada penduduk, yaitu faksi Sumatera untuk melakukan revolusi dan serangan kepada pemerintah kolonial Belanda. Belanda yang sebelumnya sudah diduduki oleh Nazi Jerman pada awal Perang Dunia II, akhirnya kalah dan memutuskan untuk menyerah. Dengan demikian, pada tahun inilah Jepang mulai melakukan penjajahan di Indonesia. Tiga setengah tahun berikutnya, penjajahan Jepang berakhir, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu hari dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Pada tahun itu, daerah yang menjadi sasaran utama adalah daerah-daerah produsen minyak bumi di sumatera dan kalimantan. Seperti tarakan, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Pekan Baru, Bukit Tinggi, dan Palembang jatuh ke tangan Jepang.
Dimulai dari Tarakan pada tanggal 11-12 Januari, disusul pada tanggal 24 Januari yaitu Balikpapan yang merupakan sumber minyak. Pontianak jatuh pada tanggal 29 Januari. Samarinda juga direbut Jepang pada 3 Februari, dan terakhir Banjarmasin juga takluk pada tanggal 10 Februari tahun 1942. Pada 5 Februari ekspansi Jepang terus ditingkatkan dengan jatuhnya lapangan terbang Samarinda II yang waktu itu masih dikuasai oleh tentara Hindia Belanda (KNIL)
Dengan dikuasainya pusat kekuatan Hindia Belanda di lapangan terbang tersebut, maka dengan mudah pada tanggal 10 Februari Banjarmasin secara keseluruhan dikuasai.
Jepang mendarat di Sumatera untuk pertama kalinya di Palembang pada tanggal 14 Februari 1942. Dua hari kemudian pada tanggal 16 Februari 1942, Palembangdan sekitarnya berhasil dikuasai oleh Jepang.
Tentara Imamura; Pada tanggal 1 Maret 1942, tentaranya berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus, yakni teluk Banten, Eretan Wetan (Indramayu$ Jawa Barat) dan di Kerangan ( Jawa Tengah).
Pada tanggal 5 Maret 1942 di Bogor berhasil diduduki oleh kolonel nasu.
Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak tanggal 8 Maret 1942 berdasarkan perjanjian Kalijati. Isi perjanjian tersebut adalah Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.
2.3MASA PENJAJAHAN EROPA DAN JEPANG
2.3.1 Spanyol
Tahun 1521 bangsa spanyol berhasil untuk pertama kali mendaratdi Tidore (Maluku) kemudian singgah di Bacan dan Jailolo. Mereka tergabung dalam ekspedisi megelhaens-del cano. Kedatangan bangsa spanyol di sambut baik oleh masyarakat setempat karena pada saat itu rakyat Maluku sedang bersengketa dengan Portugis.
Kedatangan spanyol di Maluku merupakan keberhasilan bangsa spanyol dalam mencapai daerah yang di idam-idamkan, yaitu daerah penghasil rempah-rempah. Orang-orang spanyol senang berdagang di Maluku sehingga jumlahnya semakin banyak. Bagi portugis kehadiran spanyol merupakan pelanggaran atas hak monopolinya. Akibatnya timbul persaingan antara Portugis dan Spanyol. Persaingan tersebut sejalan dengan pertentangan antara sultan Ternate dan Sultan tidore. Sultan ternate bersekutu dengan portugis, sedangkan sultan tidore bersekutu dengan Spanyol. Puncaknya Portugis dan Spanyol menempuh jalan perundingan yang di laksanakan di Saragosa (Spanyol) tahun 1529.
Perundingan itu menghasilkan kesepakatan yang disebut dengan Pejanjian Saragosa yang berisi :
1. Spanyol harus meninggalkan maluku dan melakukan perdagangan di Filipina
2. Portugis tetap melakukan kegiatan perdagangan di Kep Maluku.
Dengan perjanjian tersebut, Spanyol segera meninggalkan Maluku, bangsa portugis berusaha keras menguasai pedangangan rempah-rempah di Maluku dengan praktik monopoli.
2.3.2 Tujuan Portugis Datang Ke Indonesia
Tujuan pelayaran Portugis ke Indonesia dikenal dengan 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel, sebagai berikut:
1. Gold “Emas” tujuan pertama yakni mendapatkan keuntungan yang besar atau dilambangkan dengan emas. Keuntungan tersebut diambil dari perdagangan rempah-rempah dengan mengambil rempah-rempah dengan harga yang murah di Maluku kemudian menjual dengan harga yang tinggi di Eropa.
2. Glory “Kejayaan” Kejayaan disini diartikan sebagai perluasan wilayah yang dilakukan oleh para pelaut Eropa. Kejayaan juga dapat diartikan sebagai pencarian daerah jajahan di wilayah Asia Tenggara yang kaya akan rempah-rempah.
3. Gospel “penyebaran agama” Portugis merupakan negara dengan agama Nasrani yang kuat maka dari itu misi pelayaran Portugis ke daerah-daerah singgahian juga disertai misi penyebaran agama. Hal ini terlihat di daerah Maluku yang pada saat itu dipengaruhi agama Nasrani.
2.3.3 Pengaruh Portugis Di Nusantara
Portugis sebagai bangsa yang menjajah Indonesia memiliki pengaruh tersendiri bagi bangsa Indonesia diantaranya yaitu:
1. Berkembangnya agama Kristen terutama di daerah Maluku.
2. Berkembangnya aliran musik kroncong.
3. Peninggalan berupa benteng-benteng Portugis.
4. Adanya nama-nama Indonesia yang menggunakan nama Portugis.
5. Peninggalan berupa meriam.
Selama berada di Maluku bangsa Portugis mempengaruhi kebudayaan mereka dengan adanya balada keroncong romantis yang beradal dari iringan gitar. Selain itu kosakata bahasa Indonesia juga mendapat pengaruh dari Portugis, seperti kata pesta, sabun, bendera, meja dan lain-lain. Pengaruh bahasa Portugis ini seakan menjadi pelengkap bahasa Melayu sebagai lingua franca di Nusantara, bahkan di daerah Ambon banyak nama-nama yang berbau Portugis seperti da Costa, Mandoza, da Silva dan lain-lain.
2.3.4 Kebijakan Kerajaan Portugis Di Indonesia
Portugis menjajah Indonesia dari tahun 1512 M hingga 1641 M. Beberapa kebijakan diterapkan di Indonesia terutama di daerah Maluku. Kebijakan tersebut diantaranya yaitu:
1. Menanamkan kekuasaan di Maluku.
2. Menyebarkan agama Katolik.
3. Mengembangkan bahasa dan musik keroncong.
4. Memonopoli perdagangan.
Kebijakan yang dilakukan Portugis ini sangat merugikan petani terutama adanya sistem monopoli perdagangan karena Portugislah yang mematok harga dari rempah-rempah tersebut. Petani juga tidak leluasa menjual rempah-rempahnya ke pihak lain selain Portugis. Dengan adanya sistem monopoli ini membuat Portugis mendapat keuntungan yang sangat besar.
Berikut ini merupakan dampak dari adanya kebijakan-kebijakan yang diberlukan oleh Portugis yaitu:
1. Terganggunya sistem perdagangan.
2. Agama Katolik mulai menyebar di daerah yang diduduki Portugis.
3. Rakyat menjadi miskin dan menderita.
4. Munculnya rasa persatuan untuk melawan Portugis di Maluku.
5. Bahasa Portugis bercampur dan memperkaya perbendaharaan kata, serta mempengaruhi nama-nama keluarga di daerah Maluku.
6. Berkembangnya seni musik keroncong.
7. Periode Kejayaan Portugis Di Nusantara
Berikut ini ialah periode kejayaan bangsa Portugis yang menduduki kawasan Nusantara yaitu:
1. Pada 1511 sampai 1526 Portugis selama kurang lebih 15 tahun menjadi kerajaan yang menguasai sebagian dari Sumatera, Jawa, Banda dan Maluku.
2. Pada 1511 Portugis mengalahkan dan menguasai wilayah Malaka.
3. Pada 1512 Portugis mengadakan perjanjian dagang yang merupakan monopoli lada pada kerajaan Sunda.
2.4 JEPANG
Tahun 1942, Jepang melakukan penaklukan terhadap Asia Tenggara. Memasuki Nusantara, Jepang memberikan bantuan kepada penduduk, yaitu faksi Sumatera untuk melakukan revolusi dan serangan kepada pemerintah kolonial Belanda. Belanda yang sebelumnya sudah diduduki oleh Nazi Jerman pada awal Perang Dunia II, akhirnya kalah dan memutuskan untuk menyerah. Dengan demikian, pada tahun inilah Jepang mulai melakukan penjajahan di Indonesia. Tiga setengahh tahun berikutnya, penjajahan Jepang berakhir, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu hari dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
2.4.1 Kekuasaan Jepang di Indonesia
Secara resmi Jepang telah menguasai Indonesia sejak 8 Maret 1942 ketika Panglima Tertinggi Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Jepang berhasil menduduki Hindia-Belanda dengan tujuan untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dijadikan sebagai pusat penyediaan seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera menjadi sumber minyak utama.
Jepang tanpa banyak menemui perlawanan berhasil menduduki Indonesia. Bahkan, bangsa Indonesia menyambut kedatangan bala tentara Jepang dengan perasaan senang dan gembira karena berpikir Jepang telah membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan kolonial Belanda.
Pada awal pergerakannya, pemerintah militer Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Tetapi akhirnya sikap baik itu berubah setelah sekian waktu Jepang menduduki Indonesia. Apa yang ditetapkan pemerintah Jepang seolah mendukung kemerdekaan Indonesia. Padahal sebenarnya Jepang berlaku demikian demi kepentingan pemerintahannya yang pada saat itu sedang menghadapi perang. Apalagi setelah Jepang mengetahui harapan yang besar dari Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, mereka mulai menciptakan propaganda-propaganda untuk menaruh kepercayaan pada hati bangsa Indonesia. Jepang pun terlihat seolah-olah memihak pada kepentingan bangsa Indonesia.
Pada tahun 1943, Jepang memerlukan tambahan tentara untuk membantunya melawan kekuatan Amerika dan sekutunya karena tentara Jepang sendiri mulai terdesak. Hal tersebut mendorong Jepang untuk memberikan latihan kemiliteran. Jepang berharap organisasi kemiliteran yang telah dibentuk akan dapat membantu Jepang melawan sekutu. Organisasi kemiliteran yang dibentuk Jepang, di antaranya sebagai berikut.
1. Seinendan (Barisan Pemuda), beranggotakan pemuda berusia antara 14-22 tahun.
2. Keibodan (Barisan Pembantu Polisi), beranggotakan pemuda berusia 26-35 tahun.
3. Heiho (Pembantu Prajurit Jepang), anggota Heiho ditempatkan dalam kesatuan tentara Jepang sehingga bannyak dikerahkan ke medan perang.
4. Pembela Tanah Air (PETA), dibentuk pada 3 Oktober 1943. Calon perwira PETA mendapatkan pelatihan di Bogor. Tujuan didirikannya PETA adalah untuk mempertahankan wilayah masing-masing.
5. Fujinkai (Barisan Perhimpunan Wanita), Suishintai (Barisan Pelopor), Jibakutai (Barisan Berani Mati),
6. Seinentai (Barisan Murid Sekolah dasar), Gakukotai (Barisan Murid Sekolah dan Lanjutan), dan Hizbullah (Organisasi pemuda-pemuda Islam yang dididik militer).
2.4.2 MENYERAHNYA JEPANG KEPADA SEKUTU
Amerika Serikat membalas serangan Jepang dengan menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945. Berikutnya, pada 9 Agustus 1945, Amerika Serikat melakukan pengeboman lanjutan di kota Nagasaki, Jepang. Jepang mengabarkan bahwa pasukannya berada di ambang kekalahan. Jepang kemudian berjanji akan segera menghadiahkan kemerdekaan kepada Indonesia.
Pada 15 Agustus 1945, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Setelah mendengar kabar menyerahnya Jepang, golongan muda Indonesia segera mendesak golongan tua untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Para pejuang kemerdekaan Indonesia telah melakukan persidangan-persidangan BPUPKI (badan bentukan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia), hanya pernyataan proklamasi saja yang belum dilakukan.
Bahkan, pada 16 Agustus 1945, PPKI (panitia yang melanjutkan tugas BPUPKI) menggagalkan persidangan karena adanya desakan dari golongan muda untuk segera memerdekakan Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1945, setelah melewati peristiwa-peristiwa bersejarah demi mencapai kemerdekaan, akhirnya Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dengan demikian berakhirlah penjajahan Jepang di Indonesia.
Untuk memengaruhi masyarakat Indonesia, agar mau membantu Jepang maka Jepang melakukan berbagai cara antara lain sebagai berikut:
1. Bendera merah putih diizinkan berkibar.
2. Lagu Indonesia Raya diizinkan untuk dinyanyikan.
3. Bahasa Indonesia diizinkan digunakan sebagai bahasa pengantar.
4. Mendirikan berbagai organisasi.
Selain upaya-upaya berlaku manis, Jepang juga membentuk organisasi yang akan memperkuat keyakinan Indonesia bahwa Jepang berada di pihaknya. Organisasi-organisasi tersebut antara lain:
1. Gerakan Tiga A, merupakan organisasi pertama yang didirikan Jepang pada 29 April 1942 yang dipimpin oleh Mr. Syamsuddin.
2. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) atau Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) dibentuk pada 22 November 1943, dibawah pimpinan K.H Hasyim Asy’ari, menjadi organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.
3. Putera (Pusat Tenaga Rakyat), didirikan pada 1 Maret 1942. Organisasi ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
4. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa), didirikan pada 8 Januari 1944. Organisasi ini dipimpin oleh pejabat-pejabat Jepang.
Propoganda terkenal yang diusung Jepang adalah gerakan tiga A. Propoganda gerakan tiga A tersebut yaitu:
1. Jepang pelindung Asia
2. Jepang pemimpin Asia
3. Jepang cahaya Asia
Pada awal gerakan tiga A dikenalkan kepada masyarakat Indonesia, terlihat bahwa pemerintah Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Tetapi gerakan Tiga A hanya bertahan sementara. Penyebabnya adalah kurangnya simpati masyarakat Indonesia terhadap gerakan itu. Sebagai gantinya, pemerintah Jepang menawarkan kerja sama yang menarik, yaitu membebaskan pemimpin-pemimpin Indonesia yang ditahan Belanda, seperti Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta, Sutan Syahrir dan lain-lain.
Pengalaman dari penjajahan Jepang di Indonesia sangat beragam, tergantung di mana penduduk itu tinggal dan bagaimana status sosial orang tersebut. Jika tinggal di daerah yang berkepentingan dalam perang, akan mendapat siksaan, yang wanita akan dijadikan budak seks, penahanan liar atau sembarangan, memberikan hukuman mati, hingga kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda adalah sasaran utama dalam penguasaan Jepang
Sebagai negara imperialis baru, Jepang membutuhkan bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan industrinya dan pasar bagi barang-barang industrinya. Mereka dapat memenuhi industri dengan mengolah tanah atau daerah jajahan itu. Demikianlah jelasnya tujuan kedatangan bala tentara Jepang ke Indonesia. Mereka ingin menanamkan kekuasaannya, dengan kata lain untuk menjajah Indonesia.
Jepang semakin jelas menjajah Indonesia setelah sumber-sumber ekonomi dikontrol secara ketat oleh pasukan Jepang. Pengontrolan ini dilakukan untuk kepentingan perang dan kemajuan industri Jepang. Cara-cara yang mereka lakukan adalah:
Mengadakan romusha. Tidak sedikit para pemuda yang ditangkap dan dijadikan romusha. Romusha adalah tenaga kerja paksa yang diambil dari para pemuda dan petani untuk bekerja paksa pada proyek-proyek yang dikembangkan pemerintah pendudukan Jepang. Banyak rakyat kita yang meninggal ketika menjalankan romusha, karena umumnya mereka menderita kelaparan dan berbagai penyakit.
Para petani diawasi secara ketat dan hasil-hasil pertanian harus diserahkan kepada pemerintah Balatentara Jepang.
Hewan peliharaan penduduk dirampas secara paksa untuk dipotong guna memenuhi kebutuhan konsumsi perang.
Selain itu, Jepang memberlakukan sistem kerja paksa atau romusha untuk membangun jalan, jembatan, dan lapangan udara. Mereka tidak hanya dipekerjakan di dalam negeri tetapi juga dikirim ke Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Thailand. Mereka bekerja tanpa upah dan tanpa makanan yang cukup. Meskipun Jepang hanya berkuasa selama tiga setengah tahun di Indonesia, namun beban penderitaan yang dirasakan penduduk Indonesia seperti dijajah ratusan tahun.
2.5 MASA PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA
Penjajahan Belanda tak lepas dari sejarah kebangkrutan VOC yang sebelumnya membuka industri dagang di Nusantara. Pada akhir abad ke-18, yaitu abad kebangkrutan VOC di Nusantara dan setelah kekuasaan singkat Britania di bawah pimpinan Thomas Stanford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC. Tepatnya pada tahun 1816.
Tahun 1830, cultuurstelsel atau sistem Tanam Paksa mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para rakyat pribumi dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia, seperti teh, kopi dan lain-lain. Hasil perkebunan itu kemudian diekspor ke berbagai negara. Sistem Tanam Paksa ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya, baik pihak Belanda maupun orang Indonesia yang menjadi pemilik tanah, namun tidak bagi para pekerjanya. Para pekerja Tanam Paksa dirampas hak-hak kebebasannya untuk bekerja tanpa henti.
Pada tahun 1848, Tanam Paksa mendapat kecaman melalui perdebatan parlemen Belanda, juga tulisan-tulisan yang mengkritik terang-terangan praktik tidak manusiawi itu. Pada tahun 1870, empat puluh tahun pelaksanaan Tanam Paksa, Belanda memperoleh keuntungan sebesar 823 juta gulden. Keuntungan ini digunakan untuk membangun perdagangan dan pelayaran yang lumpuh, membangun industri yang macet, dan memperkaya pemilik pabrik.
2.5.1 POLITIK KOLONIAL LIBERAL (1870-1900)
Kemajuan perdagangan Belanda diperoleh dari keuntungan penjualan hasil perkebunan Tanam Paksa. Keuntungan itu dimanfaatkan Belanda untuk memajukan bidang industri, pelayaran dan perbankan. Pihak Belanda menikmati hasilnya, sementara penduduk menderita karena beratnya pelaksanaan Tanam Paksa. Golongan liberal kemudian berupaya mengadakan perubahan, antara lain dengan mengeluarkan peraturan anggaran dalam Undang-Undang.
Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah tahun 1854 maka politik kolonial diatur secara liberal. Penyelewengan dan penekanan mulai berkurang, termasuk praktik Tanam Paksa yang ikut dihapuskan. Ide liberal mendorong usaha perseorangan. Pemerintah tidak berhak ikut campur tangan. Tanam Paksa kemudian diganti dengan sistem kerja bebas.
Kepentingan politik liberal membawa dampak ekonomi di koloni dengan didirikannya infrastruktur dan keuntungan pun diperoleh dengan mudah. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria tahun 1870, maka politik liberal diberlakukan. Undang-undang ini pada dasarnya melarang penjualan tanah kepada orang asing, tetapi mereka hanya diperkenankan menyewanya dalam waktu 75 tahun.
2.5.2 POLITIK KOLONIAL ETIS (1900-1942)
Van Deventer, seorang tokoh liberal Belanda, mengatakan bahwa Indonesia telah berjasa membantu pemerintah Belanda memulihkan keuangannya. Dalam majalah De Gids terbitan Belanda, van Devender menyebutkan bahwa jutaan gulden yang diperoleh Belanda dari bumi Nusantara itu merupakan Een Ereschuld (utang kehormatan). Menurutnya, Belanda berutang kepada bangsa Indonesia atas keuntungan yang diperoleh dari hasil eksploitasi kekayaan Nusantara yang begitu besar. Oleh sebab itu sudah sewajarnya jika kebaikan orang Indonesia itu dibayar kembali. Menurut Van Deventer, utang budi itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui trias politica atau politik etis (Ethische Politiek) yang terdiri dari:
1. Irigasi (pengairan), yaitu dilakukan pembangunan irigasi untuk mengairi sawah-sawah milik rakyat pribumi guna meningkatkan kesejahteraan penduduk.
2. Edukasi (pendidikan), yaitu memberikan pendidikan kepada rakyat pribumi sehingga nantinya dapat dihasilkan manusia-manusia terpelajar dan kaum intelektual yang berkualitas.
3. Migrasi (perpindahan penduduk), yaitu melakukan perpindahan penduduk. Ini ditujukan agar pemerataan tempat tinggal penduduk dapat tercipta.
Tulisan Van Deventer dan para pengecam dari kelompok politisi liberal lainnya seperti Van dedem, Van kol, De Waal, dan Van den Berg, ternyata berpengaruh besar. Hingga pada tahun 1901, ratu Wilhemina mengumumkan pernyataan bahwa diperlukan suatu penyelidikan terhadap kesejahtraan rakyat Jawa. Van Deventer kemudian dikenal sebagai Bapak Pergerakan Politik Etis. Van Deventer benar-benar menempatkan kesejahtraan rakyat pribumi di atas kepentingan yang lain. Ia juga menjadi penentang kemiskinan akibat Tanam Paksa yang terjadi di Jawa.
2.5.3 PENERAPAN POLITIK ETIS
Kebijakan politik etis yang diajukan oleh van Deventer adalah suatu gagasan yang baik. Namun, dalam penerapannya ternyata tidak sejalan dengan apa yang digagaskan. Banyak terjadi penyimpangan dan penyelewengan terhadap sistem trias politika oleh para pegawai kolonial Belanda. Bentuk penyimpangan dan penyelewengan tersebut antara lain:
a. IRIGASI
Oleh pegawai kolonial belanda, sistem irigasi yang tidak diberlakukan secara adil dan merata. Irigasi yang seharusnya ditujukan untuk penduduk malah dialirkan ke tanah-tanah yang subur saja dan sebatas untuk perkebunan milik Belanda. Sementara itu tanah penduduk tidak mendapat pengairan.
b. Edukasi
Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah, namun bukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Tujuan sebenarnya adalah untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sekolah-sekolah yang telah didirikan hanya diutamakan bagi anak-anak pegawai pemerintahan dan orang-orang yang berasal dari golongan berada. Di sini terjadi diskriminasi pendidikan.
c. Migrasi
Migrasi penduduk ke daerah luar Jawa yang masih jarang penduduknya hanya dilakukan ke daerah-daerah perkebunan swasta yang dimiliki Belanda. Ini bertujuan agar penduduk yang bermigrasi ini dapat menjadi pekerja perkebunan tersebut.
2.5.4 PENDIDIKAN RAKYAT PRIBUMI
Melalui penerapan politik etis, khususnya bidang pendidikan, rakyat pribumi yang memperoleh pendidikan bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan barat. Kesadaran mereka sebagai bangsa juga meningkat. Dari kalangan terpelajar ini kemudian muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian mempelopori berbagai organisasi pergerakan nasional untuk memperjuangkan nasib bangsa.
Bangunnya rakyat terjajah dan penolakan terhadap hubungan kolonial disebut nasionalisme yang memiliki unsur-unsur kebangunan politik, ekonomi, sosial, kultural dan religius. Unsur-unsur itu semua dikembangkan untuk mencapai pembaharuan ke arah kemandirian dan kesatuan bangsa. Sehubungan dengan lahirnya Budi Utomo yang dianggap sebagai manifestasi lahirnya jiwa nasionalisme, maka jelas kiranya bahwa kekuatan dari dalam masyarakat itu sendiri yang memberi kekuatan dan pergaulan hidup kolonial itulah yang memberi corak nasionalisme Indonesia.
Pengaruh politik etis sedikit demi sedikit membawa perubahan ke arah perbaikan nasib dan usaha untuk melepaskan dari dari belenggu penjajahan, meskipun tidak dapat diingkari bahwa kaum etikus sebenarnya adalah para kapitalis yang menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan meningkatkan daya beli dan kesejateraan penduduk Indonesia. Lahirnya organisasi pergerakan nasional merupakan tanda dan dorongan tamatnya sejarah politik etis.
Pendidikan kolonial yang menekankan perlunya perluasan pendidikan anak-anak bumiputera setelah pertengahan abad XIX dirintis oleh Fransen van der Putte. Dikatakannya bahwa pengajaran yang sudah berjalan hanya untuk memenuhi kebutuhan aparatur kolonial, tetapi yang terpenting adalah melalui pengajaran yang akan memajukan penduduk bumiputera. Maka diperlukan suatu pengajaran untuk anak-anak pribumi, tidak hanya anak-anak penguasa saja. Dengan begitu, anak-anak pribumi yang telah mendapatkan pendidikan dapat membantu pemerintahan kolonial.
Dengan adanya pendidikan untuk bumiputera, maka muncullah elite-elite baru pendidikan yang semestinya menduduki jabatan dalam birokrasi kolonial, tetapi tempat mereka telah diambil oleh orang-orang Belanda. Mereka kemudian membuka usaha baru yang brsifat swasta, karena mereka merasa dengan bekerja kepada pemerintah kolonial berarti mereka mengabdi pada penjajah. Dengan usaha baru tersebut masyarakat pribumi dapat menegakkan prinsp berdiri di atas kaki sendiri. Elite baru berusaha mendapat tempat di hati masyarakat. Sebagai kekuatanm sosal politik baru pada mulanya pemerintah belum banyak memberikan perhatian. Akan tetapi ternyata mereka ini adalah pendukung semangat kebangsaan dan dari merekalah semangat nasionalisme berkembang.
Tahun 1940 merupakan awal pecahnya Perang Dunia II. Oleh karena Belanda berhasil diduduki Nazi Jerman, Belanda pun mengumumkan keadaan siaga dan mengalihkan ekspor ke Amerika Serikat dan Britania. Negosiasi dengan Jepang mengenai pengamanan bahan bakar pesawat tidak membuahkan hasil. Jepang mulai melakukan penaklukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dibantu oleh pasukan Jepang, faksi dari Sumatera melakukan penyerangan terhadap pemerintahan Belanda hinga akhirnya pada Maret 1942, Belanda menyerah dan kembali dari Nusantara karena kalah oleh pasukan Jepang.
2.6 SEJARAH PENJAJAHAN INGGRIS DI INDONESIA
Inggris secara resmi menjajah Indonesia lewat perjanjian Tuntang (1811) dimana perjanjian Tuntang memuat tentang kekuasaan belanda atas Indonesia diserahkan oleh Janssens (gubernur Jenderal Hindia Belanda) kepada Inggris. Namun sebelum perjanjian Tuntang ini, sebenarnya Inggris telah datang ke Indonesia jauh sebelumnya. Perhatian terhadap Indonesia dimulai sewaktu penjelajah F. Drake singgah di Ternate pada tahun 1579.
Selanjutnya ekspedisi lainnya dikirim pada akhir abad ke-16 melalui kongsi dagang yang diberi nama East Indies Company (EIC). EIC mengemban misi untuk hubungan dagang dengan Indonesia. Pada tahun 1602, armada Inggris sampai di Banten dan berhasil mendirikan Loji disana. Pada tahun 1904, Inggris mengadakan perdagangan dengan Ambon dan Banda, tahun 1909 mendirikan pos di Sukadana Kalimantan, tahun 1613 berdagang dengan Makassar (kerajaan Gowa), dan pada tahun 1614 mendirikan loji di Batavia (jakarta). Dalam usaha perdagangan itu, Inggris mendapat perlawanan kuat dari Belanda. Belanda tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mengusir orang Inggris dari Indonesia. Setelah terjadi tragedi
Ambon Massacre, EIC mengundurkan diri dari Indonesia dan mengarahkan perhatiannya ke daerah lainnya di Asia tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam sampai memperoleh kesuksesan. Inggris kembali memperoleh kekuasaan di Indonesia melalui keberhasilannya memenangkan perjanjian Tuntang pada tahun 1811. Selama lima tahun (1811 – 1816), Inggris memegang kendali pemerintahan dan kekuasaanya di Indonesia.
Sementara itu perhatian Inggris terbagi dua. Perhatian mereka lebih dicurahkan ke India. Pada tahun 1611 EIC telah membuka pusat perdagangan di Masuliptam dan kemudian membuka hubungan dagang dengan Siam dan Myanmar. Sementara itu Inggris telah berhasil menjalin hubungan dengan Aceh, Makasar, Pariaman, Jambi, Jayakarta, Jepara dan Sukadana. Mereka telah juga mendirikan kantor-kantor untuk perdagangan mereka. Diantara pemimpin perdagangan Inggris yang dianggap paling membahayakan kedudukan Belanda di Nusantara adalah Jhon Jourdei. Dialah yang paling banyak terlibat permusuhan dengan J. P. Ceon, gubernur jendral VOC. Dengan tegas Jordaen menegaskan bahwa perdagangan di Maluku adalah bebas baik untuk Belanda maupun Inggris. Permusuhan nantara VOC dan EIC terjadi ketika perlayaran George Cokayne dan George Ball dipimpin oleh Gerard Reynest, peristiwa itu terjadi pada tahun 1615. Dalam kontak senjata ini, Belanda mengalami kekalahan. Pada tahun1616 juga terjadi ketegangan antara kapal-kapal Inggris di bawah kepemimpinan Samuel Castleton dengan armada VOC dibawah pimpinann Jan Dirkszoon Lam. Karena kekuatan VOC lebih besar, maka Inggris pun mengalah.
Pemerintah Inggris rupanya tidak mempersiapkan peperangan untuk kepentingan EIC dikepulauan Nusantara. Inggris kemudian menarik diri dari kegiatan perdagangan di Asia Tenggara. Pada tahun 1628 kantor dagang Inggris dipindahkan dari Jayakarta ke Banten bahkan pada tahun 1628 Inggris di usir dari Banten oleh Belanda. Pada tahun 1684 Inggris mendirikan Port York di Bengkulu. Inilah daerah kekuasaan Inggris yang tetap bertahan terhadap ancaman Belanda. Pada tahun 1417 karena kesulitan alam, Inggris terpaksa memindahkan kedudukannya dan mendirikan benteng baru Port Marlborough, tidak jauh dari tempat semula. Didaerah inilah kekuasaan Inggris tetap bertahan sampai tahun 1824. Pada tahun inilah setelah ditandatangani Treaty of London, Inggris keluar dari Bengkulu bertukar dengan Malaka yang semulanya telah diduduki Belanda.
2.6.1 PEMERINTAHAN THOMAS S.RAFFLES
Indonesia mulai tahun 1811 berada dibawah kekuasaan Inggris. Inggris menunjuk Thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur jenderal di Indonesia. Beberapa kebijakan Raffles yang dilakukan di Indonesia antara lain:
1. Jenis penyerahan wajib pajak dan rodi harus dihapuskan.
2. Rakyat diberi kebebasan untuk menentukan tanaman yang ditanam.
3. Tanah merupakan milik pemerintah dan petani dianggap sebagai penggarap tanah tersebut.
4. Bupati diangkat sebagai pegawai pemerintah.
Raffles berkuasa dalam waktu yang cukup singkat. Sebab sejak tahun 1816 kerajaan Belanda kembali berkuasa di Indonesia. Pada tahun 1813, terjadi prang Lipzig antar Inggris melawan Prancis. Perang itu dimenangkan oleh Inggris dan kekaisaran Napoleon di Prancis jatuh pada tahun 1814. Kekalahan Prancis itu membawa dampak pada pemerintahan di negeri Belanda yaitu dengan berakhirnya pemerintahan Louis Napoleon di negeri Belanda. Pada tahun itu juga terjadi perundingan perdamaian antara Inggris dan Belanda. Perundingan itu menghasilkan Konvensi London atau Perjanjian London (1814), yang isinya antara lain menyepakati bahwa semua daerah di Indonesia yang pernah dikuasai Belanda harus dikembalikan lagi oleh Inggris kepada Belanda, kecuali daerah Bangka, Belitung dan Bengkulu yang diterima Inggris dari Sultan Najamuddin. Penyerahan daerah kekuasaan di antara kedua negeri itu dilaksanakan pada tahun 1816. Dengan demikian mulai tahun 1816, Pemerintah Hindia-Belanda dapat kembali berkuasa di Indonesia.
Pemerintahan Raffles di Indonesia cenderung mendapat tanggapan positif dari para raja dan rakyat Indonesia karena hal berikut ini.
1. Para raja dan rakyat Indonesia tidak menyukai pemerintahan Daendels yang sewenang-wenang dan kejam.
2. Ketika masih berkedudukan di Penang, Malaysia, Raffles beberapa kali melakukan misi rahasia ke kerajaan-kerajaan yang anti Belanda di Indonesia, seperti Palembang, Banten, dan Yogyakarta dengan janji akan memberikan hak-hak lebih besar kepada kerajaan-kerajaan tersebut.
3. Sebagai seorang liberalis, Raffles memiliki kepribadian yang simpatik. Beliau menjalankan politik murah hati dan sabar walaupun dalam praktiknya terkadang agak berlainan.
2.6.2 KEBIJAKAN PEMERINTAHAN THOMAS S. RAFFLES
Pada tanggal 3 Agustus 1811, Angkatan Laut Inggris mendarat di Teluk Batavia di bawah pimpinan Gilbert Eliot, Lord Minto, dan Thomas Stamford Raffles. Armada angkatan laut Inggris terdiri dari 100 kapal dengan membawa 1.200 orang. Pendaratan dipimpin oleh Jenderal Auchmuty pada tanggal 4 Agustus 1811. Pada tanggal 8 Agustus 1811, mereka berhasil menguasai Batavia. Jenderal Jumel yang ditugaskan mempertahankan Batavia terpaksa mundur hingga di garis pertahanan Meester Cornelis. Kemudian pimpinan pertahanan diambil oleh Jansens. Ia dihimbau agar Pulau Jawa diserahkan kepada Inggris tetapi ditolak. Segera terjadi pertempuran yang hebat di Meester Cornelis selama 16 hari. Tentara Belanda ternyata tidak sanggup bertahan sehingga Jansens mundur ke arah Bogor. Dari Bogor ia berangkat ke Semarang dengan harapan dapat mempertahankan PUlau Jawa dari sana. Ia juga mengharapkan raja-raja yang berkuasa dapat memberikan bantuan, tetapi hal itu tidak terpenuhi.
Dalam menjalankan pemerintahan di Indonesia, Raffles didampingi oleh suatu Badan Penasihat (Advisory Council) yang terdiri atas Gillespie, Cranssen, dan Muntinghe. Tindakan-tindakan Raffles selama memerintah di Indonesia (1811-1816) adalah sebagai berikut.
I) BIDANG BIROKRASI PEMERINTAHAN
1. Pulau Jawa dibagi menjadi 16 karesidenan, yang terdiri atas beberapa distrik. Setiap distrik terdapat beberapa divisi (kecamatan) yang merupakan kumpulan dari desa-desa.
2. Mengubah sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak barat.
3. Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya sebagai kepala pribumi secara turun-temurun. Mereka dijadikan pegawai pemerintah kolonial yang langsung di bawah kekuasaan pemerintah pusat.
II) BIDANG PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN
1. Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedangkan pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani menanam tanaman ekspor yang paling menguntungkan.
2. Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) karena dianggap terlalu berat dan dapat mengurangi daya beli rakyat.
3. Menetapkan sistem sewa tanah (landrent). Sistem ini didasarkan pada anggapan bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik tanah dan para petani dianggap sebagai penyewa (tenant) tanah pemerintah. Oleh karena itu, para petani diwajibkan membayar pajak atas penggunaan tanah pemerintah.
4. Pemungutan pajak pada mulanya secara perorangan. Namun, karena petugas tidak cukup akhirnya dipungut per desa. Pajak dibayarkan kepada kolektor yang dibantu kepala desa tanpa melalui bupati.
Sistem sewa tanah tersebut disebut Lnadrent atau sewa tanah. Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain:
1. Petani harusmenyewa tanah meskipun dia adalah pemilik tanah tersebut.
2. Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi tanah.
3. Pembayaran sewa tanah dilakukan dengan uang tunai.
Sistem landrent ini diberlakukan terhadap daerah-daerah di Pulau jawa, kecuali daerah-daerah sekitar Batavia dan parahyangan. Hal itu disebabkan daerah-daerah Batavia pada umumnya telah menjadi milik swasta dan daerah-daerah sekitar Parahyangan merupakan daerah wajib tanam kopi yang memberikan keuntungan yang besar kepada pemerintah.Bagi yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak kepala.
III) BIDANG HUKUM
Sistem peradilan yang diterapkan Raffles lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh Daendels. Apabila Daendels berorientasi pada warna kulit (ras), Raffles lebih berorientasi pada besar-kecilnya kesalahan. Menurut Raffles, pengadilan merupakan benteng untuk memperoleh keadilan. Oleh karena itu, harus ada benteng yang sama bagi setiap warga negara.
IV) BIDANG SOSIAL
1. Penghapusan kerja rodi (kerja paksa).
2. Penghapusan perbudakan, tetapi dalam praktiknya beliau melanggar undang-undangnya sendiri dengan melakukan kegiatan sejenis perbudakan. Hal itu terbukti dengan pengiriman kuli-kuli dari Jawa ke Banjarmasin untuk membantu perusahaan temannya, Alexander Hare, yang sedang mengalami kekurangan tenaga kerja.
3. Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.
V) BIDANG ILMU PENGETAHUAN
Masa pemerintahan Raffles di Indonesia memberikan banyak peninggalan yang berguna bagi ilmu pengetahuan, antara lain berikut ini.
1. Ditulisnya buku berjudul History of Java. Dalam menulis buku tersebut, Raffles dibantu oleh juru bahasanya Raden Ario Notodiningrat dan Bupati Sumenep, Notokusumo II.
2. Memberikan bantuan kepada John Crawfurd (Residen Yogyakarta) untuk mengadakan penelitian yang menghasilkan buku berjudul History of the East Indian Archipelago, diterbitkan dalam tida jilid di Edinburgh, Scotlandia pada tahun 1820.
3. Raffles juga aktif dalam mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
4. Ditemukannya bunga bangkai yang akhirnya diberi nama Rafflesia Arnoldi.
5. Dirintisnya Kebun Raya Bogor.
Selama lima tahun Raffles berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali persengketaan dengan pribumi. Hal ini terjadi di Palembang (1811), Yogyakarta (1812), Banten (1813), dan Surakarta (1815).
2.6.3BERAKHIRNYA KEKUASAAN THOMAS S. RAFFLES
Berakhirnya pemerintah Raffles di Indonesia ditandai dengan adanya Convention of London pada tahun 1814. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh wakil-wakil Belanda dan Inggris yang isinya sebagai berikut.
1. Indonesia dikembalikan kepada Belanda.
2. Jajahan Belanda seperti Sailan, Kaap Koloni, Guyana, tetap ditangan Inggris.
3. Cochin (di Pantai Malabar) diambil alih oleh Inggris, sedangkan Bangka diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya.
Raffles yang sudah terlanjur tertarik kepada Indonesia sangat menyesalkan lahirnya Convention of London. Akan tetapi, Raffles cukup senang karena bukan ia yang harus menyerahkan kekuasaan kepada Belanda, melainkan penggantinya yaitu John Fendall, yang berkuasa hanya lima hari. Raffles kemudian diangkat menjadi gubernur di Bengkulu yang meliputi wilayah Bangka dan Belitung. Karena pemerintahan Raffles berada di antara dua masa penjajahan Belanda, pemerintahan Inggris itu disebut sebagai masa interregnum (masa sisipan)
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Sistem pemerintahan jepang yang diterapkan di inonesia adalah jepang menegakkan pemerintahan militer yang diperintah oleh angkatan darat dan angkatan laut. Organisasi dan perkumpulan yang didirikan Jepang diantaranya: Gerakan Tig a A, Putera, Jawa Hokokai, MIAI dan masyumi.
Pada masa kedudukan jepang di Indonesia hingga menejelang kemerdekaan banyak menggunakan usaha-usaha propaganda, bentukkan organisasi-organisasi, misalnya organisasi sosial, diantaranya gerakan 3A, putera, jawa hokokai, dan MIAI, selain itu da juga bentukan organisasi militer diantaranya Heiho, dan PETA
3.2 SARAN
Kita sebagai pemuda Indonesia wajib menghormattin jasa para pahlawan yang lebih dulu meninggalkan kita. Hargai lah mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raganya serta berjuang mati-matian demi meraih kemerdekaan yang dapat kita rasakan pada masa kini.
Walupun sekarang Indonesia sudah merdeka, sebagai penerus bangsa masih harus berjuang demi kemajuan negeri ini. Kita harus berterima kasih kepada para pahlawan cukup dengan cara belajar dengan sungguh-sungguh demi kejayaan tanah air tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.gurupendidikan.co.id/masa-penjajahan-portugis-sejarah-tujuan-pengaruh-kebijakan-kejayaan/
https://sejarahlengkapcom.cdn.ampproject.org/v/s/sejarahlengkap.com/indonesia/masa-penjajahan-jepang-di-indonesia/
http://wartasejarah.blogspot.com/2016/06/penjajahan-bangsa-inggris-di-indonesia_4.html?m=1
http://sejarahwajibindonesia.blogs pot.com/2015/09/ penjajahan¬-bangsa- eropa-ke-indonesia.html?m=1
Komentar
Posting Komentar