MASUKNYA KERAJAAN HINDU BUDHA KE INDONESIA, kelompok III
MAKALAH MASUKNYA KERAJAAN HINDU BUDHA KE INDONESIA
PENDIDIKAN
DASAR SEJARAH

DISUSUN OLEH :
Fransiska Yusvita Sary (1986206065)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang
Mahakuasa yang mana atas berkat dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “Masukmya Kerajaan Hindu Budha ke Indonesia”. Makalah ini telah
saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai sumber
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan
banyak terima kasih.
Terlepas
dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar dapat
memperbaiki makalah ini.
Saya berharap semoga makalah Masuknya Kerajaan Hindu
Budha ke Indonesia dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Samarinda, 24 Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan yang
berkembang di Indoneisa pada tahap awal diyakini berasal dari India. Pengaruh
itu diduga mulai masuk pada awal abad masehi. Apabila kita membandingkan
peninggalan sejarah yang ada di Indonesia akan ditemukan kemiripan itu. Sebelum
kenal dengan kebudayaan India, bangunan yang kita miliki masih sangat
sederhana. Saat itu belum dikenal arsitektur bangunan seperti candi atau
keraton. Tata kota di pusat kerajaan juga dipengaruhi kebudayaan hindu.
Demikian pula dalam hal kebudayaan yang lain seperti peribadatan dan
kesastraan.
Candi Prambanan merupakan
salah satu peninggalan agama hindu yang ada di Jawa Tengah. Sedangkan Borobudur
adalah merupakan candi peninggalan agama budha. Agama hindu dan budha masuk di
berbagai tempat di Indonesia melalui berbagai jalur, antara lain pendidikan,
perdagangan, dan lain-lain. Agama budha berkembang lebih dahulu, bahkan untuk
beberapa waktu, Indonesia (sriwijaya) pernah menjad pusat pendidikan dan
pengetahuan agama budha yang bertaraf internasional.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses masuk dan berkembangnya
pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia ?
2. Daerah mana saja yang dipengaruhi dan tidak
di pengaruhi unsur hindu-buddha di Indonesia sampai abad XIV
3. Kerajaan apa saja yang bercorak hindu-budha
di Indonesia.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui proses masuk dan
berkembangnya pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia.
2. Untuk mengetahui kerajaan-kerajaan yang
berorak hindu-budha di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh
Hindu-Budha ke Indonesia
Masuk dan berkembangnya
agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha dari India ke Indonesia terjadi karena
adanya hubungan antara bangsa Indonesia, India,dan bangsa-bangsa lainnya di
kawasan Asia Selatan ,Timur,dan Tenggara.Hubungan tersebut terjadi melalui
kegiatan politik dan diplomasi,pelayaran dan perdagangan,pendidikan,dan
kebudayaan. Melalui lalu lintas tersebut,terjadi pertukaran
barang,pengalaman,dan kebudayaan Hindu dan Buddha.
Catatan awal abad masehi
mengenai kedatangan orang-orang Hindu dan Buddha dari India ke Indonesia tidak
diketahui dengan pasti.Adapun hubungan antara India,Cina,dan Indonesia berasal
dari catatan orang Cina pada abad ke-5M.
Menurut catatan
tersebut,agama Buddha yang masuk ke Indonesia tidak hanya berasal dari India,tetapi juga dari Cina.Sejak awal
abad masehi,Cina mulai mengembangkan kekuasaannya ke wilayah Asia Tenggara dan
membentuk kerajaan yang berkiblat ke Cina.Penjelajah Cina yang yang paling awal
menyambut dan mengenal Jawa ialah Fa
Hsien. Ia menetap selama 12 tahun di India.Ketika dalam perjalanan pulang ke
Cina,Ia Hsien beserta rombongan yang berjumlah 100 orang,singgah di Jawa Mereka
singgah selama lima bulan sejak Desember
412 sampai Mei 413.
Hubungan pelayaran dan
perdagangan antara Jawa, Sumatera, Kanton (Cina), Sri Lanka, dan Kashmir
(India) dicatat pula oleh Gunawwarma. Ia adalah seorang pangeran dari kashimir
yang pernah tinggal lama di Jawa Pada 422,ia menyebarkan Buddhisme sebelum
berlayar ke Cina.Catatan singkat dari Gunawarmma ini menunjukkan bahwa pengaruh
kebudayaan India atau Cina bisa masuk melalui hubungan pelayaran dan
perdagangan antara Indonesia (Jawa) dan negeri-negeri di Asia
Tenggara,Timur,dan Selatan.
Van Leur dan Wolters
berpendapat bahwa hubungan dagang antara India dan Indonesia lebih dahulu
berkembang dibandingkan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Cina. Bukti
keterlibatan Indonesia dalam perdagangan mancanegara banyak kita dapati dari
sumber-sumber luar negeri dan dalam negeri, seperti berikut.
1. Berita dari Cina
Berita dari Cina yang
memuat keterlibatan bangsa Indonesia dalam perdagangan internasional, antara
lain sebagai berikut :
a. Catatan Dinasti Han, Dinasti Sung, Dinasti
Yuan, dan Dinasti Ming, menjelaskan bahwa sejak awal tahun masehi telah terjadi
hubungan dagang antara Cina dan Indonesia . Hubungan dagang itu terbukti dari
banyaknya barang-barang keramik (porselen) Cina yang ditemukan di Indonesia.
b. Fa-Hien, seorang musafir yang singgah di
To-lo-mo selama lima bulan dalam perjalannya dari India ke Cina. Kemungkinan
yang dimaksud dengan Tolomo adalah Kerajaan Tarumanegara yang muncul di Jawa
Barat pada sekitar abad ke-5M.
c. I-Tsing, seorang peziarah dan rahib Buddha.
Dalam catatannya, ia menuliskan kesan tentang Kerajaan Sriwijaya sebagai salah
satu pusat agama Buddha di asia pada abad ke-7 M.
2. Berita dari India
Berita tertua terdapat
dalam kitab Ramayana yang menyebutkan bahwa Dewi Sinta diculik oleh Rahwana,
Hanoman mencarinya sampai ke Javadwipa (Jawa). Sumber lain berasal dari Piagam
Nalanda yang menyebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya memegang peran kunci untuk
masuk ke wilayah nusantara.
3. Berita dari Arab
Para saudagar dan
ahli-ahli geografi bangsa Arab menulis tentang Indonesia sejak abad ke-6 M.
mereka sering menyebut kerajaan bernama Zabag atau Sribusa. Kemungkinan yang
dimaksud dengan Zabag atau Sribusa inii adalah Kerajaan Sriwijaya. Zabag atau
Sribusa terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan negeri yang kaya akan
emas.
Berdasarkan peranan
bangsa Indonesia dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha maka terdapat dua
sikap, yaitu bersikap pasif dan bersikap aktif. F.D.K.Bosh menyebutnya sebagai
hipotesa arus balik. Adapun penjelasannya sebagai berikut.
1. Bangsa Indonesia Bersikap Pasif
Pihak yang dianggap
sebagai penyebar kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia adalah kaum Brahmana dari
India. Alasannya pengaruh budaya India yang berkembang di Indonesia
memperlihatkan unsur-unsur brahmana. Misalnya, prasasti dan agama Hindu.
Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta dan dengan huruf Pallawa.
Padahal bahasa dan tulisan itu hanya dimengerti oleh kaum brahmana. Selain itu,
pengaruh kebudayaan Hindu tampak jelas pada perkembangan agama Hindu di
Indonesia. Urusannya keagamaan merupakan tanggung jawab kaum Brahmana.
2. Bangsa Indonesia Bersikap Aktif
Pihak yang berperan
sebagai penyebar kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia adalah para pedagang dan
Brahmana Indonesia. Para pedagang Indonesia pergi berdagang ke India dan
melihat sendiri keadaan di tempat itu. Mereka tertarik dengan keteraturan
masyarakat dan keunggulan budaya India. Terdorong untuk memajukan negrinya di
Indonesia, maka para pedagang tersebut mengundang brahmana ini ke Indonesia
untuk memperkenalkan kebudayaan Hindu-Buddha.
Kedatangan para brahmana
India ke Indonesia lama-kelamaan menimbulkan kelompok masyarakat baru. Brahmana
India pun membina para brahmana Indonesia. Selanjutnya, para brahmana Indonesia
pergi berziarah, para Brahmana itu juga memperdalam ilmu pengetahuan mereka.
Setelah dirasa cukup maka mereka kembali ke Indonesia dan mulai menyebarkan
sesuai dengan kondisi bangsa
Indonesia. Dengan
cara-cara seperti itu maka budaya Hindu-Buddha masuk dan diterima oleh bangsa
Indonesia. Jadi, hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses masuknya
penganut Hindu-Buddha ke Indonesia. Beberapa hipotesis diatas menunjukan bahwa
masuknya pengaruh Hindu-Buddha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah,
namun tetap didukung oleh proses perdagangan. Untuk agama Buddha diduga adanya
misi penyiar agama Buddha yang disebut dengan Dharmaduta, dan diperkirakan abad
ke-2 masehi agama Buddha masuk ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya
penemuan arca Buddha yang terbuat dari perunggu di berbagai daerah di
Indonesia, antara lain Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jatim), Bukit
Siguntang (Sumatra Selatan). Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari
langgam Amarawati (India Selatan) dari abad ke-2 sampai dengan ke-5 masehi.
Disamping itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di
kota Bangun, Kutai (Kaltim). Masuknya kebudayaan Hindu-Buddha tidak begitu saja
diterima oleh bangsa Indonesia, melainkan tetap mengalami seleksi. Hal itu
disebabkan bangsa Indonesia sendiri pada saat itu juga telah memiliki
kebudayaan sendiri yang juga telah berkembang.
Selain itu, ada beberapa
penyebab unsur budaya Hindu-Buddha dapat diterima masyarakat Indonesia, antara
lain sebagai berikut.
1. Masyarakat Indonesia memiliki dasar-dasar
kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya budaya asing di Indonesia
menambah perbendaharaan dan saling mengisi dengan budaya Indonesia.
2. Kecakapan khusus bangsa Indonesia disebut
dengan local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa dalam menerima unsur-unsur
kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian
bangsa Indonesia.
3. Masuknya kebudayaan Hindu-Buddha ke
Indonesia menimbulkan akulturasi kebudayaan dengan kebudayaan bangsa Indonesia.
Adapun wujud akulturasi itu , seperti berikut.
1. Bahasa
Wujud akulturasi dalam
bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sanskerta yang dapat
ditemukan sampai sekarang di mana bahasa Sanskerta memperkaya perbendaharaan
bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Sanskerta pada awalnya banyak ditemukan
pada prasasti (batu tertulis) peninggalan kerajaan Hindu-Buddha (5-7M)
contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara.
Pada perkembangan selanjutnya bahasa Sanskerta digantikan oleh bahasa Melayu
Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya
(7-13M).
2. Religi/Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang
berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia adalah
kepercayaan yang berdasarkan pada animisme dan dinamisme. Dengan masuknya agama
Hindu-Buddha ke Indonesia, masyarakat Indonesia mulai menganut atau mempercayai
agama –agama tersebut. Agama
Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan
kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami sinkritisme
(bagian dari proses akulturasi yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang
berbeda menjadi satu). Itu sebabnya agama Hindu dan Buddha yang berkembang di
Indonesia, berbeda dengan agama Hindu –Buddha
yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat
dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Buddha yang ada di
Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang
dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, ternyata upacara tersebut tidak dilaksanakan
oleh umat Hindu di India.
3. Organisasi Sosial Kemasyarakatan
Wujud akulturasi dalam
bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat dalam organisasi politik,
yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya
pengaruh India. Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut maka sIstem
pemerintah yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah
oleh seorang raja secara turun-temurun.
Raja di Indonesia ada
yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa keramat sehingga rakyat
sangat memuja raja tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja
yang memerintah singasari, seperti kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa, dan
Raden Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harihara (Dewa Syiwa dan Wisnu
jadi satu).
Pemerintahan seorang raja
di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan
ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan
terutama apabila raja tidak mempunyai
putra mahkota seperti yang terjadi di kerajaan majapahit, pada waktu
pengangkatan Wikramawardana. Wujud akulturasi disamping terlihat alam sistem pemerintahan
juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat
berdasarkan sistem kasta.
Sistem kasta menurut
kepercayaan hindu terdiri atas kasta Brahmana (golongan pendeta), kasta
Kesatria (golongan prajurit dan bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang),
dan kasta Sudra (golongan rakyat jelata).
Kasta-kasta tersebut juga
berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia, tetapi tidak sama persis
dengan kasta-kasta yang ada di India. Hal itu dikarenakan kasta India
benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia
tidak demikian. Di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
4. Sistem Pengetahuan
Wujud akulturasi dalam
bidang pengetahuan, salah satunya, yaitu perhitunganwaktu berdasarkan kalender
tahun Saka, yaitu tahun dalam kepercayaan Hindu. Menurut perhitungan, satu
tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun Saka dan tahun Masehi
adalah 78 tahun. Sebagai contoh tahun Saka 654 maka tahun Msehinya 654 + 78 =
732 M.
Disamping adanya
pengetahuan tentang kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka dengan
menggunakan candrasangkala. Candrasangkala adalah susunan kalimat atau gambar
yang dapat dibaca sebagai angka. Candrasangkala banyak ditemukan dalam prasasti
yang ditemukan di Pulau Jawa dan menggunakan kalimat bahasa Jawa. Salah satu
contohnya yaitu kalimat Sirna ilang kertaning bhumi apabila diartikan sirna =
0, ilang = 0, kertaning = 4, dan bhumi = 1 maka kalimat tersebut diartikan dari
belakang, yaitu sama dengan tahun 1400 Saka atau sama dengan 1478 M yang
merupakan tahun runtuhnya Majapahit.
5. Peralatan Hidup dan Teknologi
Salah satu wujud
akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan
candi. Seni bangunan candi tersebut memang mengandung unsur budaya India,
tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang
ada di India karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi
pembuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab
Silpasastra, yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk
melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
Untuk itu, dilihat dari
bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar
bangunan candi di Indonesia punden berundak-undak yang merupakan salah satu
peninggalan kebudayaan Megalithikum dan berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Adapun fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata “candi”
tersebut. Perkataan “candi” berasal dari kata “candika” yang
merupakan salah satu nama Dewi Durga atau dewi maut sehingga candi merupakan
bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat, khususnya raja-raja dan
orang-orang terkemuka.
Disamping itu dalam
bahasa Kawi, candi berasal dari kata “cinandi” artinya yang dikuburkan. Untuk itu, yang
dikuburkan di dalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai
macam benda yang yang menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam
pripih.
Dengan demikian, fungsi
candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau
dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya
lambang jasmaniah raja, sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat
pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota
Benares merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
Untuk candi yang bercorak
Buddha fungsinya sama dengan di India, yaitu untuk memuja Dyani Bodhisatwa yang
dianggap sebagai perwujudan dewa
Untuk candi Buddha di
India hanya berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia stupa merupakan ciri khas
atap candi-candi yang bersifat agama Buddha. Dengan demikian, seni bangunan
candi di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya
mengambil intinya saja dari unsur budaya India sebagai dasar ciptaannya dan
hasilnya tetap sesuatu yang bercorak Indonesia.
6. Kesenian
Wujud akulturasi dalam
bidang kesenian terlihat dalam bidang seni dari seni rupa, seni sastra, dan
seni pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari
relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi banyak
menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu
ataupun Buddha.
Gambar relief pada candi
Borobudur ada yang menggambarkan Buddha sedang digoda oleh mara yang
menari-nari diiringi gendang. Relief ini mengisahkan riwayat hidup sang Buddha
seperti yang terdapat dalam kitab Lalitawistara. Demikian pula halnya dengan
candi-candi Hindu. Relief-reliefnya yang juga mengambil kisah yang terdapat
dalam kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana yang digambarkan melalui relief
candi Prambanan ataupun candi Panataran.
B. Daerah yang dipengaruhi dan tidak di
pengaruhi unsur hindu-buddha di Indonesia sampai abad XIV
Masuknya unsur
Hindu-Buddha ke Indonesia berlangsung dengan damai, bertahap, dan
berkelanjutan. Hampir semua wilayah Indonesia menerima pengaruh Hindu dan
Buddha, kecuali wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
1. Wilayah yang dipengaruhi unsur-unsur Buddha
di Indonesia
Bukti-bukti peninggalan
yang dapat menjelaskan keberadaan pengaruh Buddhisme di Indonesia adalah
penemuan arca perunggu Buddha sempaga (Sulawesi selatan). Dilihat dari
bentuknya, arca ini mempunyai bentuk sama dengan arca yang dibuat di Amarawati
(India). Para ahli menduga arca tersebut merupakan barang dagangan ataupun
benda persembahan. Tidak hanya di daerah Sempaga saja, beberapa tempat seperti
di Besuki (Jawa Timur) dan sumatra selatan juga adalah tempat penemuan patung
Buddha.
2. Wilayah yang dipengaruhi unsur-unsur Hindu
di Indonesia
Kemunculan unsur Hindu di
Indonesia diduga pada sekitar abad ke-5 masehi. Tonggak waktu tesebut diambil
dari penafsiran tujuh buah yupa peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan timur
dan tujuh buah prasasti dari kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat sekarang ini.
Oleh karena Yupa dan Prasasti di kedua kerajaan tersebut menggunakan huruf
pallawa, maka diperkirakan kebudayaan Hindu yang menyebar ke beberapa daerah di
Indonesia pada tahap permulaan berasal dari India Selatan. Agama dan kebudayaan
Hindu di Indonesia kemudian berkembang di kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan
Holling, Mataram Hindu, Kanjuruhan, Kediri, Singasari, Majapahit,Sunda,dan
Bali.
3. Wilayah yang tidak dipengaruhi unsur Buddha
di Indonesia
Wilayah yang tidak
dipengaruhi unsur budaya hindu-buddha, yaitu Maluku dan sekitarnya, pulau-pulau
di nusa tenggara, Maluku dan papua serta sekitarnya. Kemungkinan tidak masuknya
pengaruh tersebut karena wilayah Indonesia bagian timur dianggap terlalu jauh
untuk dijangkau, wilayahnya sangat terpencil dan sarana transportasi tidak ada.
Selain itu, kawasan Indonesia amat luas dan terdiri atas ribuan pulau yang
terhampar dari barat sampai ke timur.
C. Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
Kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu-Budha merupakan salah satu bukti adanya pengaruh kebudayaan
Hindu-Budha di Indonesia. Setiap kerajaan dipimpin oleh seorang raja yang
memiliki kekuasaan mutlak dan turun-temurun. Kerajaan-kerajaan itu antara lain
:
1. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai dengan
nama asli Kutai Martadipura merupakan kerajaan hindu tertua di Indonesia,
dengan aliran agama hindu-siwa. Letaknya di Muara Kaman tepatnya pada hulu
sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
2. Kerajaan Tarumanegara
Sumber mengenai kerajaan
Tarumanegara berasal dari tujuh buah prasasti yang berbahasa sansekerta dan
huruf pallawa. Prasasti tersebut adalah prasasti Ciaruteun, Kebun Kopi, Jambu,
Tugu, Pasar Awi, Muara Cianten, dan Lebak.
3. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan sriwijaya adalah salah satu
kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Indonesia. Kerajaan ini mampu
mengembangkan diri sebagai negara maritim dengan menguasai lalu lintas
pelayaran dan perdagangan internasional. Keberadaan kerajaan ini diketahui
melalui enam buah prasasti yang menggunakan bahasa melayu kuno dan huruf
pallawa, serta telah menggunakan angka tahun saka. Prasasti tersebut adalah
Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Kota Kapur dan Karang Berahi.
4. Mataram Kuno
Menurut Teori Van Bammalen, letak kerajaan
ini berpindah-pindah, hal ini disebabkan oleh 2 alasan, yaitu karena adanya
bencana alam letusan Gunung Merapi, dan karena adanya peperangan dalam
perebutan kekuasaan. Awalnya, pada abad ke-8 kerajaan ini terletak di daerah
Jawa Tengah, kemudian setelah Gunung Merapi meletus pada abad ke-10, kerajaan
ini dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok. Agama di kerajaan ini pun
terbagi menjadi 2, yaitu hindu pada Dinasti Sanjaya dan budha pada Dinasti
Syailendra. Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Raja Sanna. Raja Sanna
kemudian digantikan oleh keponakannya, Raja Sanjaya.
5. Kerajaan Singhasari
Keberadaan Kerajaan Singhasari
didasarkan pada kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan
raja-raja yang memerintah di Singasari serta kitab Pararaton yang juga
menceritakan keajaiban Ken Arok. Ken Arok semula sebagai akuwu (bupati) di
Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya karena tertarik kepada Ken
Dedes isteri Tunggul Ametung.
6. Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan
Hindu terakhir dan terbesar di Indonesia. Letaknya di Pulau Jawa. Pendirinya
adalah Raden Wijaya yang sempat melarikan diri ke Madura bersama istrinya saat
terjadi Peristiwa Mahapralaya. Kerajaan Majapahit, awalnya hanyalah sebuah desa
kecil bernama Desa Tarik yang merupakan pemberian Raja Jayakatwang dari Kediri.
Raden Wijaya telah dimaafkan dan dipercaya tidak bersalah atas kesalahan
generasi atasnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masuk dan berkembangnya
agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha dari India ke Indonesia terjadi karena
adanya hubungan antara bangsa Indonesia, India,dan bangsa-bangsa lainnya di
kawasan Asia Selatan ,Timur,dan Tenggara.Hubungan tersebut tidak hanya terjadi
melalui perdagangan tetapi juga terjadi melalui kegiatan politik dan
diplomasi,pelayaran,pendidikan,dan kebudayaan.Melalui lalu lintas
tersebut,terjadi pertukaran barang,pengalaman,dan kebudayaan Hindu dan Buddha.
Pendapat mengenai proses
masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia, yaitu hipotesis
Waisya, Hipotesis Ksatria, Hipotesis Brahmana dan teori Arus Balik. Masuk dan
berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Budha membawa pengaruh besar di
berbagai bidang. Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha merupakan salah
satu bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Setiap kerajaan
dipimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan mutlak dan turun-temurun.
Kerajaan-kerajaan itu antara lain : Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara,
Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno, Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit.
Masuknya kebudayaan India ke Indonesia telah membawa pengaruh terhadap
perkembangan kebudayaaan di Indonesia. Namun kebudayaan asli Indonesia tidak
begitu luntur. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian
dengan kebudayaan, maka terjadilah proses akulturasi kebudayaan.
B. Saran
Kebudayaan yang
berkembang di Indoneisa pada tahap awal diyakini berasal dari India. Pengaruh
itu diduga mulai masuk pada awal abad masehi. Apabila kita membandingkan
peninggalan sejarah yang ada di Indonesia akan ditemukan kemiripan itu. Sebelum
kenal dengan kebudayaan India, bangunan yang kita miliki masih sangat
sederhana. Saat itu belum dikenal arsitektur bangunan seperti candi atau
keraton.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.co.id/?gws_rd=ssl#q=sejarah+masuknya+agama+hindu+budha+di+indonesia
http://fauziatripurnama.blogspot.com/2013/03/makalah-kronologi-masuk-dan.html
http://reeseppcerdas.blogspot.com/2014/02/makalah-sejarah-perkembangan-hindu_23.html
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan
1
BAB II PEMBAHASAN
A. Proses masuk dan berkembangnya Agama
Hindu-Budha ke
Indonesia 2
B. Daerah yang dipengaruhi unsur Hindu-Budha
di Indonesia sampai abad
XIV 9
C. Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 12
B. Saran
12
DAFTAR PUSTAKA 13
Komentar
Posting Komentar