SEJARAH ZAMAN MENGENAL TULISAN . KELOMPOK II
MAKALAH
SEJARAH ZAMAN MENGENAL TULISAN
Dosen pengampu :
Ratna Khairunnisa, S.Pd, M,Pd
Disusun oleh:
Kelompok 2
Dicky ardianto (1986206020)
Maria savini (1986206016)
Yenita epiyana bulan (1986206169)
Sarmila nurul ameliana nur yasin(1986206133)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYAGAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan,
serta shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga saya
dapat menyalesaikan makalah yang berjudul “ZAMAN SESUDAH MENGENAL TULISAN”dari tugas Sejarah ini dengan
tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan tentang Tradisi sejarah masyarakat Indonesia pada masa aksara
dan perkembangan rekaman tulisan diharapkan makalah ini dapat menambahkan
pengetahuan kita semua, tentang bagaimana kehidupan pada masa Aksara zaman dahulu itu.
Saya
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh
karena itu dengan penuh kerendahan hati, saya berharap bagi para pembaca
berkenan untuk memberikan kritik dan sarannya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Akhir
kata saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kita semua. Amin
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................... I
KATA PENGANTAR.................................................................................. II
DAFTAR ISI................................................................................................ III
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1
Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah....................................................................... 2
1.3
Tujuan Penulisan Makalah.......................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
2.1
Masa aksara................................................................................. 3
2.2
Tradisi sejarah
masyarakat Indonesia pada masa aksara............ 3
2.3
perkembangan rekaman
tulisan................................................... 6
BAB III PENUTUP...................................................................................... 11
3.1
kesimpulan.................................................................................. 11
3.2
saran............................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Pada awal mulanya, tulisan yang digunakan merupakan gambar
sederhana yang merepresentasikan suatu objek maupun pekerja Dalam sejarahnya,
manusia mula – mula tidak tinggal menetap akan tetapi mengembara dan satu
tempat ke tempat lain. Manusia mencari makan dari alam sekitarnya. Pada
perkembangan berikutnya manusia mulai menetap dengan mata pencaharian utama
yakni bertani.
Dalam pengembarannya tersebut, manusia memperoleh pengalaman
bahwa bila mereka memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta
bahan lainnya, ternyata manusia dapat menyempaikan berita kepada manusia
lainnya. Pesan ini dipahatkan pada bautu, pohon, serta bahan lainnya yang bisa
ditulisi. Sebelum mengenal tulisan, manusia berhubungan dengan manusia lainnya
melalui bahasa lisan ataupun bahasa isyarat. Setelah menggunakan berbagai tanda
yang dipahatkan kepada pohon, batu, ataupun benda lainnya, manusia mulai
berkomunikasi dengan manusia lain melalui bahasa tulisan.
Dari segi lain, tanda ataupun tulisan yang dipahatkan pada
pohon, batu, dan benda lainnya dapat digunakan sebagai catatan mengenai apa
yang dikatakan manusia maupun apa yang perlu diketahui seseorang. Dengan adanya
tulisan tersebut dapat membantu daya ingat manusia, karena kini manusia dapat
melihat catatannya tersebut. Pesan dalam berbagai pahatan tersebut dapat
diteruskan dan diwariskan kepada generasi berikutnya maupun kepada suku
lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa manusia menulis karena berdasarkan
pengalamannya. Sebelum mengenal tulisan, manusia berbahasa dengan menggunakan
bahasa lisan dan isyarat. Bahasa tulis digunakan sebagai alat komunikasi dan
pewarisan pengetahuan dari generasi sebelumnya.
1.2
Rumusan masalah
Bagaimana corak kehidupan pada masa aksara?
1.3
Tujuan penulisan
Untuk
mengetahui kehidupan pada masa aksara?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
MASA AKSARA
Tradisi sejarah masyarakat Indonesia berkembang pula pada masa aksara,
yaitu masa ketika masyarakat Indonesia sudah mengenal tulisan. Pada masa
aksara, tradisi sejarah direkam melalui tulisan sehingga lahirlah rekaman
tertulis. Rekaman tertulis ini pun, sama halnya dengan tradisi masa praaksara,
yaitu tumbuh dan berkembang melalui pewarisan dalam masyarakat. jadi pada
materi ini kita akan mempelajari perkembangan sejarah masyarakan indonesia
setelah mengenal tulisan (masa aksara) dan dampak adanya zaman aksara terhadap
kehidupan masyarakat indonesia.
2.2
TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA
PADA MASA AKSARA.
Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari Yunan ke Nusantara yang melewati
jalan barat (melewati Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa), serta yang melewati
jalur utara Yunan – Formosa – Jepang – Sulawesi Utara dan sampai di Irian/Papua
ternyata membawa pengaruh besar terhadap perkembangan sejarah kehidupan bangsa
Indonesia. Adanya beraneka ragam budaya daerah yang muncul di tengah-tengah
perkembangan masyarakat yang masih dapat dirasakan oleh masyarakat nusantara
pada masa kini.
Bangsa Deutero Melayu yang datang 500 SM ke Nusantara ternyata membawa
pengaruh yang lebih maju daripada pendahulunya. Mereka melalui jalan barat,
yakni Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa. Mereka hidup di Nusantara dan berkembang
sebagai masyarakat yang produktif serta menjadi bangsa Indonesia sampai
sekarang. Masyarakat Deutero Melayu yang telah berkembang menjadi bangsa
Indonesia itu telah memiliki kemajuan di berbagai bidang, antara lain, sebagai
berikut.
1)
Dalam bidang pemerintahan, mereka
menganut asas demokrasi melalui musyawarah untuk menentukan
pimpinan mereka, bentuk organisasi kemasyarakatan yang ada adalah kesukuan.
Kepala suku dipilih dari orang yang memiliki kemampuan tertinggi (primus inter
pares).
2)
Dalam bidang ekonomi, usaha untuk
memenuhi kebutuhan diupayakan dengan menggunakan ekonomi barang
(pertukaran/barter), hidup gotong royong dalam mengerjakan sawah, berkelompok,
dan semua hak milik digunakan bersama.
3)
Kepercayaan nenek moyang kita adalah
animism dan dinamisme. Keadaan alam Nusantara memaksa
mereka harus pandai berlayar sebab Nusantara terdiri atas kawasan kepulauan
serta adanya tuntutan kebutuhan untuk saling mencukupi. Akhirnya, muncul
perdagangan antarpulau dan berkembang menjadi perdagangan antarnegara.
Pelayaran lintas laut telah membawa bangsa Indonesia mampu mengarungi lautan
internasional sehingga terciptalah hubungan dagang yang maju, yang melibatkan
kawasan Nusantara. Kita ketahui bahwa kemajuan pelayaran perdagangan antara
Cina – India yang melewati kawasan Nusantara menyebabkan terjalinnya
perdagangan di Nusantara juga, namun pengaruh India di Nusantara jauh lebih
besar. Pengaruh India yang masuk ke Nusantara membawa perkembangan bagi
kemajuan hidup masyarakat di Nusantara pada saat itu dan berkembang sampai
sekarang, misalnya, dalam bidang pemerintahan, budaya, sosial, dan kepercayaan.
1)
Dalam bidang pemerintahan
Masyarakat Nusantara yang hidup secara berkelompok di masa lalu, ternyata
mampu berkembang secara dinamis dengan bentuk kesukuan. Kontak dengan India
ternyata membawa pengaruh positif dalam kehidupan masyarakat terutama dalam
pemerintahan. Masyarakat Nusantara yang semula berbentuk kesukuan, dengan
masuknya pengaruh hinduisme ke dalam masyarakat, mengubah bentuk
pemerintahannya menjadi bentuk kerajaan. Kekuasaan raja diberikan secara turun
temurun dan tidak dipilih rakyat sehingga rakyat menerima saja. Namun, raja
yang lemah pasti segera jatuh digantikan raja yang lebih bijaksana atau lebih
kuat.
2)
Dalam bidang budaya
Kita mengetahui bahwa masuknya budaya India ke Nusantara ternyata memberi
semangat bangsa Indonesia untuk berkarya lebih bagus dan terarah. Bahkan para
raja dan penguasa mulai menuliskan perintah melalui prasasti. Hasil karya
budaya Nusantara yang mengagumkan dan memiliki seni yang tinggi, misalnya,
candi Borobudur yang menjadi kebanggaan dunia dan relief pada dinding candi
yang melebihi kehebatan orang India. Misalnya, relief Ramayana pada candi
Prambanan. Begitu juga munculnya seni sastra yang dihasilkan oleh sastrawan
Nusantara seperti cerita Mahabharata dan
Ramayana versi Nusantara kitab Gatotkacasraya yang telah memuat unsur
javanisasi.
3)
Dalam bidang sosial
Pranata sosial di zaman Indonesia-Hindu sudah teratur, sudah ada desa
sebagai satu kelompok masyarakat. Penerapan aturan untuk membina masyarakat
sudah ada, kehidupan masyarakatnya bersifat gotong royong.
4)
Dalam kepercayaan
Nenek moyang yang sudah memiliki kepercayaan asli (animisme, dinamisme)
mulai mengenal agama Hindu dan Buddha. Sehingga, meskipun telah menyembah Dewa
Hindu atau Buddha, mereka tetap bersesaji untuk memuja roh (sesuai keyakinan
animisme dan dinamisme).
2.3
PERKEMBANGAN REKAMAN TULISAN
Jejak-jejak masa lampau menjadi bahan penting untuk menuliskan kembali
sejarah umat manusia. Jejak masa lampau mengandung informasi yang dapat
dijadikan bahan penulisan sejarah. Masa lampau yang hanya meninggalkan
jejak-jejak sejarah tersebut menjadi komponen penting dan mengandung informasi
yang dapat dijadikan bahan untuk penulisan sejarah.
Kisah sejarah tersebut disampaikan dari generasi ke generasi dan dapat
dipelihara terus sehingga mampu untuk mengisahkan kembali peristiwa dari
jejak-jejak pada masa lampau. Jejak sejarah dapat dibedakan menjadi dua.
1)
Jejak historis, yaitu jejak
sejarah yang menurut sejarawan memiliki atau mengandung informasi tentang
kejadian-kejadian yang historis sehingga dapat digunakan untuk menyusun
penulisan sejarah.
2)
Jejak nonhistoris, yaitu suatu
kejadian pada masa lampau yang tidak memiliki nilai sejarah.
Jejak historis yang berwujud tulisan merupakan rekaman tertulis tradisi
masyarakat pada masa lalu. Rekaman tertulis di Indonesia terbagi menjadi sumber
tertulis sezaman dan setempat, sumber tertulis sezaman tetapi tidak setempat,
dan sumber tertulis setempat tidak sezaman.
1.
Sumber tertulis sezaman dan
setempat
Sumber tertulis sezaman ialah sumber tersebut ditulis oleh orang yang
mengalami peristiwa itu, atau ditulis waktu itu, atau ditulis tidak lama
setelah peristiwa itu terjadi. Sumber setempat maksudnya adalah penulisannya di
dalam negeri sendiri. Contoh sumber tertulis sezaman dan setempat adalah
prasasti. Prasasti
berarti
pengumuman atau proklamasi, semacam perundang-undangan yang memuji raja, dan
biasanya berbentuk puisi atau bahasa puisi. Dalam istilah bahasa Inggris
disebut enloggistie. Istilah lain untuk prasasti adalah inscriptie atau piagam.
Ilmu yang mempelajari tentang prasasti disebut epigraphy.
2.
Sumber tertulis sezaman tetapi
tidak setempat
Sumber ini dimaksudkan ditulis sezaman, tetapi ditulis di luar negeri.
Sumber ini biasanya tidak begitu jelas, kebanyakan berasal dari Tiongkok, Arab,
Spanyol, dan India. Misalnya, kitab Ling Wai Taita karangan Chou Ku Fei pada
tahun 1178.
3.
Sumber tertulis setempat tidak
sezaman
Sumber ini ditulis lama sesudah peristiwa terjadi, mungkin sudah
berdasarkan cerita dari mulut ke mulut atau berdasar cerita rakyat. Misalnya,
buku Babad Tanah Jawi dan kitab Pararaton
(walau- pun ada babad sezaman, tetapi tidak banyak).
Sejak masuk dan
berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha (India) di Indonesia, masyarakat Indonesia
mulai mengenal tulisan. Tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca dan sampai kepada
generasi penerus. Tulisan yang ditinggalkan itu dipandang sebagai suatu rekaman
tertulis tentang peristiwa yang terjadi pada mesa lampau. Berikut rekaman
tertulis yang dimaksud,
1.
Prasasti
Prasasti merupakan salah satu rekaman tertulis tentang masa lampau yang
sudah menjadi kebiasaan para penguasa untuk mengingat dan mengabadikan suatu
peristiwa penting yang dialami oleh raja atau penguasa. Prasasti adalah
peninggalan tertulis yang dipahatkan dan dilukiskan pada bahan yang tidak mudah
musnah, seperti batu, logam, dan gading. Pada umumnya, prasasti menuliskan
suatu peristiwa yang cukup penting pada masa lampau. Prasasti umumnya dibuat
atas perintah raja yang berkuasa. Tujuan pembuatan prasasti adalah untuk
mengabadikan suatu peristiwa penting yang dialami oleh seorang raja atau sebuah
kerajaan. Pada abad ke-4 sampai dengan ke-8, prasasti di Nusantara mengguankan
huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, prasati-prasasti tersebut biasa ditulis
dalam bentuk syair dengan menggunakan kaidah-kaidah dari India.
Berikut contoh prasasti pada awal perkembangan kebudayaan Hindu-Budha.
a)
Prasasti Kutai di Kalimantan
Timur
Prasasti berupa tujuh buah yupa (tugu batu) yang diperkirakan berasal dari
tahun 400 M, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Sansekerta. Isinya, peringatan
upacara kurban agama Hindu yang diperintah oleh Raja Mulawarman, Putra
Aswawarman, dan cucu Kudungga.
b)
Prasasti Kerajaan Tarumanegara di
Jawa Barat
Prasasti Kerajaan Tarumanegara. di Jawa Barat berhuruf Pallawa dan
berbahasa Sanskerta. Contoh: prasasti Ciaruteun (pahatan telapak kaki dan
tulisan), prasasti Kebon Kopi (pahatan telapak kaki gajah dan tulisan),
prasasti Jambu (pujian terhadap Purnawarman), prasasti Pasir Awi (memuat syair
pujian terhadap Raja Purnawarman) prasasti Tugu (berita tentang penggalian
saluran Sungai Gomati), prasasti Muara Cianten, dan prasasti Cidang Hiang.
c)
Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Contohnya:
prasasti Keduclukan Bukit (Dapunta Hyang menaklukkan beberapa daerah), prasasti
Talang Tuo (perintah Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua
makhluk), prasasti Telaga Batu (berisi kutukan kepada siapa saja yang tidak
setia pada raja), prasasti Kota Kapur (berisi permohonan kepada dews untuk
menjaga Sriwijaya dan menghukum para penghianat Sriwijaya).
d)
Prasasti Kerajaan Mataram Kuno
Prasasti Canggal (654 Saka/732 M), menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf
Pallawa. Prasasti Canggal berisi mengenai pendirian sebuah lingga atas perintah
Raja Sanjaya di atas bukit Kunjarakunja. Prasasti Matyasih (prasasti Kedu) (829
Saka/907 M), berisi tentang raja-raja yang memerintah sebelurn Dyah-Batitung.
prasasti Ritihang, berbahasa Jawa Kuno ditulis dengan huruf Pallawa berangka
tahun 863 Saka/ 914 M.
e)
Prasasti Kerajaan Syailendra
Prasasti Kalasan, berangka tahun 700 Saka (778 M), berbahasa Sanskerta, dan
ditulis dengan huruf Pra-Nagari.
Prasasti Klurak (dekat Prambanan), berangka tahun 704 Saka (782 M), ditulis
dengan bahasa Sansekerta dan huruf Pra-Nagari. Berisi mengenai pembuatan area
Manjusri.
2.
Dokumen
Dokumen merupakan surat berharga yang bertulis atau dicetak sehingga dapat dipakai untuk
sebuah bukti atau keterangan. Dokumen-dokumen tersebut harus didokumentasikan.
Dokumentasi adalah pengumpulan, pemilihan pengolahan, dan penyimpanan
infoermasi dari berbagai bidang, dapat berupa pengumpulan bukti-bukti atau
keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, bahan referensi, dan lain
sebagainya. Dokumen merupakan suatu yang snagat berharga, baik bagi pemakainya
maupun pembuatnya.
3.
Kitab
Kitab merupakan sebuah kasastra para pujangga pads masa lampau yang dapat
dijadikan petunjuk untuk mengungkap suatu peristiwa di masa lampau. Para
pujangga umunya menulis atas perintah
raja. Itulah sebabnya, isi tulisan banyak menulis keagungan dan kebesaran raja
yang bersangkutan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terlepas dari mana asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dan kapan mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, kita harus percaya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ribuan tahun sebelum masehi telah hidup di wilayah Indonesia. Kehidupan mereka mengalami perkembangan yang teratur seperti bangsa - bangsa di belahan dunia lain.
Kehidupan sosial, masyarakat semi nomaden setingkat lebih baik dari pada masyarakat nomaden. Jumlah anggota kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas pada keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan di antara mereka mulai dikembangkan. Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tentram, dan damai.
3.2 saran
Setelah mempelajari kehidupan masa aksara dan Setalah kami menyusun makalah ini kami member saran :
1. Kita Harus Bersyukur Karena kita tidak perlu bersusah keras lagi untuk mencari makanan kini kita tinggal membeli apa yang kita inginkan .
2. Kita mumpunyai rumah jika ingin tinggal.
3. Masa kita sekarang adalah masa yang modern tentunya perlu di syukuri dan dinikmati sesuai kebutuhan.
4. Jangan lupa bersyukur selalu kepada tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Terlepas dari mana asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dan kapan mereka mulai tinggal di wilayah Indonesia, kita harus percaya bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah ribuan tahun sebelum masehi telah hidup di wilayah Indonesia. Kehidupan mereka mengalami perkembangan yang teratur seperti bangsa - bangsa di belahan dunia lain.
Kehidupan sosial, masyarakat semi nomaden setingkat lebih baik dari pada masyarakat nomaden. Jumlah anggota kelompok semakin bertambah besar dan tidak hanya terbatas pada keluarga tertentu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan di antara mereka mulai dikembangkan. Rasa kebersamaan ini sangat penting dalam mengembangkan kehidupan yang harmonis, tenang, aman, tentram, dan damai.
3.2 saran
Setelah mempelajari kehidupan masa aksara dan Setalah kami menyusun makalah ini kami member saran :
1. Kita Harus Bersyukur Karena kita tidak perlu bersusah keras lagi untuk mencari makanan kini kita tinggal membeli apa yang kita inginkan .
2. Kita mumpunyai rumah jika ingin tinggal.
3. Masa kita sekarang adalah masa yang modern tentunya perlu di syukuri dan dinikmati sesuai kebutuhan.
4. Jangan lupa bersyukur selalu kepada tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Daftar pustaka
Komentar
Posting Komentar