Sosiologi dan Antropologi kel:4, ANEKA WARNA MANUSIA DAN SISTEM KEKERABATAN


MAKALAH
  ANEKA WARNA MANUSIA DAN SISTEM KEKERABATAN
SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
Dosen Pengampu :
Ratna Khairunnisa, S. Pd., M. Pd
https://fkip-uwgm.ac.id/data/uploads/archive-bing/logo-fkip-s2.png

DISUSUN OLEH :
Kelompok 4
1.     Dicky Ardianto               : 1986206020
2.     Selly Dwi Ananda           : 1986206177
3.     Fransiska Yusvita Sary   : 1986206065
4.     Sarita Kumala                 : 1986206111
5.     Sarmila Nurul                 : 1986206133
6.     Marselina Nyinaq           : 1986206128
7.     Ema                                 : 1986206032
8.     Desi Safitri                     : 1986206109
9.     Aknes Amylia Rante       : 1986206099

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM
SAMARINDA
2020
 KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Aneka Warna Manusia dan Sistem Kekerabatan”. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pemikirannya.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang penjelasan mengenai aneka warna manusia dan sistem kekerabatan secara detail. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan. Guna membuat makalah ini dapat lebih baik lagi.                 
            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.






SAMARINDA, 8 APRIL 2020                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               




DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL   ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR                                                                                     .... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang  ................................................................................... .... 1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................ .... 2
1.3  Tujuan Penulisan Makalah................................................................... .... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Kekerabatan...................................................................... .... 3 
2.2  Prinsip Keturunan Tata Hubungan Kekerabatan .................................... 3
2.3  Kelompok Kekerabatan........................................................................... 6
2.4  Analisa Sistem Kekerabatan.................................................................... 7
2.5  Etnografi dan Masalah Aneka Warna Manusia....................................... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sistem kekrabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.Dan memiliki bebrapa unit unit sosial yang terdiri dari bebrapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinaan antar lain ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakek, nenek, dan seterusnya.
Masalah asal mula dan perkembangan keluarga dalam masyarakat telah lama menjadi perhatian para ahli ilmu-ilmu sosial, yang dalam upaya itu telah mencari bahan perbandingannya dalam kawanan-kawanan hewan yang hidup berkelompok. Pada tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, manusia mula-mula hidup mirip sekawan hewan berkelompok, pria dan wanita hidup bebas tanpa ikatan. Kelompok keluarga inti sebagai inti masyarakat karena itu juga belum ada. Lama-lama manusia sadar akan hubungan antara seorang ibu dan anak-anaknya, yang menjadi satu kelompok keluarga inti karena anak-anak hanya mengenal ibunya, tetapi tidak mengenal ayahnya. Dalam kelompok seperti ini ibulah yang menjadi kepala keluarga. Perkawinan antara ibu dan anak yang berjenis pria di hindari, sehingga timbullah adat eksogami. Kelompok ibu, dengan ini telah mencapai tingkat dalam proses perkembangan kebudayaan manusia.
Sistem kekeluargaan merupakan salah satu segi dari kebudayaan bermacam macam pengelompokan. Manusia sejak dilahirkan telah langsung termasuk dari bagian satu jenis kelompok yang terdapat di mana-mana atau yang universal sifatnya yaitu keluarga.
            Keluarga-keluarga itu mendiami daerah tertentu dan bersama dengan kelompok keluarga lain tinggal berdekatan. Dari persebaran daerah itu, maka munculah kebudayaan dalam segi kekerabatan yaitu suatu keluarga dengan keluarga yang lainnya di suatu daerah yang berbeda-beda.



1.2  Rumusan Masalah
1.     Apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan ?
2.     Apakah peran dari sistem kekerabatan ?
3.     Bagaimana proses terjadinya aneka warna manusia ?

1.3  Tujuan
Agar para mahasiswa/i mengerti mengenai:
1.      Pengertian dari sistem kekerabatan,
2.     Peran dari sistem kekerabatan,
3.     Penjelasan bagaimana proses terjadinya aneka warna manusia.


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Kekerabatan
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial dan memiliki beberapa unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan antara lain ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakek, nenek, dan seterusnya. Kekerabatan atau keluarga merupakan hubungan antara manusia yang memiliki asal usul atau silsilah yang jelas dan sama baik,melalui keturunan biologis sosial ataupun budaya.Adapun ikatan antara orang yang bukan kerabat akan melahirkan atau menghasilkan beberapa banyak macam bentuk pengelompokan dari ‘’persaudaraan sedarah’’  sampai persahabatan semacam ’’perkumpulan’’umur dan ikatan yang terbentuk karena keinginan sendiri dan termasuk kedalam kategori bukan kerabat. Kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara manusia yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis sosial maupun budaya. Dalam bahasa Indonesia ada istilah sanak saudara, kaum kerabat, ipar-bisan, yang dapat diartikan dengan kata family. Kata family berasal dari bahasa Belanda dan Inggris yang sudah umum dipakai dalam bahasa Indoneisa sehingga dapatlah dikatakan ia telah di Indonesianisasi. Pengertian kelompok kekerabatan merupakan deskripsi mengenai suku bangsa tertentu. Perkawinan merupakan unsur universal yang dilakukan oleh masyarakat di dunia. Perkawinan bukan termasuk kedalam kebudayaan universal saja tetapi di perinci dalam kompleks budaya, dan kompleks sosial seperti, lamaran, upacara pernikahan, perayaan, mas kawin, harta pembawaan pengantin wanita, adat menetap sesudah menikah, dll
2.2  Prinsip Keturunan Tata Hubungan Kekerabatan
Prinsip Keturunan Tata hubungan kekerabatan ditentukan oleh prinsip–prinsip keturunan yang ragamnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Prinsip Patrilineal Hubungan kekerabatan berdasarkan pada garis pria atau kekerabatan ayah saja, sedangkan kerabat ibu tidak diperhitungkan. Contoh: masyarakat Batak. Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah. Kata ini seringkali disamakan dengan patriarkat atau patriarki, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Patrilineal berasal dari dua kata bahasa latin, yaitu pater yang berarti ayah, dan linea yang berarti garis. Jadi, patrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ayah.
Sementara itu, patriarkat berasal dari dua kata Bahasa Yunani, yaitu pater yang berarti "ayah", dan archein yang berarti memerintah. Jadi, patriarki berarti kekuasaan berada di tangan ayah atau pihak laki-laki.
Penganut patrilineal, antara lain:
·         Bangsa Arab
·     Suku Rejang
·        Suku Batak
Lawan dari patrilineal adalah matrilineal yaitu suatu adat masyarakat yang menyatakan alur keturunan berasal dari pihak ibu. Penganut adat matrilineal di Indonesia sebagai contoh adalah Suku Minagkabau Adat patrilineal lebih umum digunakan kelompok masyarakat dunia dibandingkan matrilineal yang lebih jarang penggunaannya.
b.      Prinsip Matrilineal Hubungan kekerabatan bersdasarkan pada garis wanita atau kerabat ibu saja, sedangkan kerabat bapak tidak diperhitungkan. Contoh: masyarakat Minangkabau. Setiap anak yang lahir dalam sebuah keluarga minangkabau akan menjadi kerabat keluarga ibunya, bukan kerabat ayahnya yang biasa terjadi di suku-suku lain di Indonesia.
           
Adapun ciri-ciri dari sistem Matrilineal yaitu sebagai berikut; 
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu. 
2. Suku terbentuk menurut garis ibu 
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya atau eksogami karena  di Minangkabau dilarang kawin sesuku.
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku 
5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi dan tinggal dirumah istrinya. 
6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.
       Di dunia hanya beberapa suku saja yang menggunakan sistem Matrilineal ini, Yakni :
- Suku Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia
- Suku Indian di Apache Barat
- Suku Navajo, sebagian besar suku Pueblo, suku Crow, di Amerika Serikat
- Suku Khasi di Meghalaya, India Timur Laut
- Suku Nakhi di Provinsi Sichuan dan Yunnan, Tiongkok
- Beberapa suku kecil di kepulauan Asia Pasifik
       Dari beberapa suku tersebut diatas, Suku Minangkabau merupakan Suku terbesar penganut sistem kekerabatan yang menurut garis keturunan ibu ini. Matrilineal merupakan salah satu aspek dalam menentukan dan mendefinisikan identitas masyarakat . Kaum perempuan di memiliki kedudukan yang istimewa. Adat dan budayanya menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan.
        Dalam sistem keturunan matrilineal ini, ayah bukanlah anggota dari garis keturunan anak-anaknya. Dia dipandang tamu dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga. Secara tradisi, setidak-tidaknya, tanggung jawabnya sebagai  wali dari garis-keturunannya dan pelindung atas harta benda garis keturunan itu sekalipun dia harus menahan dirinya dari menikmati hasil tanah dan harta pusaka kaumnya istrinya. Salah satu implementasi dari sistem Matrilineal ini adalah penggunaan nama suku dibelakang nama asli.
c. Prinsip Bilineal Hubungan kekerabatan berdasarkan pada garis pria untuk sejumlah hak dan kewajiban tertentu dan melalui garis wanita untuk sejumlah hak dan kewajiban lainnya. Contoh; masyarakat Umbundu di angola, Afrika Barat dimana urusan pemeliharaan ternak dan harta warisan berupa ternak diatur melalui garis ayah sememntara urusan pertanian dan tanah diatur melalui garis ibu.
d. Prinsip Bilateral Hubungan kekerabatan berdasarkan pada garis pria maupun wanita. Karena dalam kehidupan bermasyarakat individu tidak bisa berhubungan dengan semua kerabat biologisnya, maka dalam Prinsip Bilateral dikenal beberapa prinsip tambahan.
e. Prinsip Ambilineal Hubungan kekerabatan untuk sebagian orang dalam masyarakat diperhitungkan menurut garis pria dan untuk sebagian orang lainnya menurut garis wanita. Contoh masyarakat Dayak Iban Ulu Ai.
2.3  Kelompok Kekerabatan
a. Keluarga Inti (nuclear family) terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak.
b. Keluarga Luas (extended family) Terdiri dari beberapa keluarga inti yang menjalin hubungan keluarga yang arat dan tinggal bersama pada suatu rumah atau pekarangan.
c. Kindred Merupakan kesatuan kekerabatan yang menjadi aktif bila ada peristiwa seperti pertemuan, upacara, pesta, kegiatan lainnya.
d. Keluarga Ambilineal Kecil Merupakan kelompok kekerabatan yang berkoporasi, dimana keluarga yang tergabung di dalamnya dapat menikmati harta produktif secara bersama.
e. Keluarga Ambilineal Besar Terdiri dari tiga atau empat generasi, dimana warga satu dengan lainnya tidak selalu saling mengenal.
f. Klen Kecil Terdiri dari gabungan keluarga luas yang merasa berasal dari nenek moyang, baik menurut garis pria maupun wanita
g. Klen Besar Kelompok kekerabatatan yang terdiri dari semua keturunan nenek moyang yang sama yang diperhitungkan melalui garis pria maupun wanita.
h. Fratri Kelompok kekerabatan patrilineal atau matrilineal yang bersifat lokal dan merupakan gabungan dari kelompok klen setempat.
i. Paroh Masyarakat (moiety) Kelompok kekerabatan gabungan klen – klen kecil atau bagian lokal dari klen besar yang mempunyai fungsi politis untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dan kekuatan dalam masyarakat.
2.4 Analisa Sistem Kekerabatan
Levi-Strauss mengatakan bahwa masyarakat bersahaja biasanya didominasi oleh sistem kekerabatan, dan warga-warganya berinteraksi di dalamnya berdasarkan sistem simbolik. Dalam usahanya menganalisa segala macam sistem kekerabatan, ia berpangkal pada keluarga inti, sebagaimana Radcliffe-Brown (h. 211-214). Mengenai azas klasifikasi elementer, Levi-Strauss mengatakan bahwa untuk mengetahui kategori-kategori yang secara elementer dipergunakan akal manusia dalam mengklasifikasikan seluruh alam semesta beserta segala isinya, maka dapat dipelajari dari studi tentang totemisme. Menurutnya, arti kata totem (yang secara lengkap berbunyi ototeman dalam bahasa Ojibwa) adalah “dia adalah kerabat pria saya”. Memang hampir secara universal manusia dalam akal pikirannya merasakan dirinya sebagai kerabat atau berhubungan dengan hal-hal tertentu dalam alam semesta sekelilingnya, atau dengan manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial-budayanya, sehingga manusia ber-ototeman dengan hal-hal itu.
Dalam usahanya menganalisa segala macam system kekerabatan, seperti juga Brown, Levi-strauss, berpangkal kepada keluarga inti. Ketiga macam hubungan dalam rangka keluarga inti adalah :
1)     hubugan antara seorang individu dengan saudara-saudara sekandungnya yang berupa hubungan darah.
2)     hubungan antara individu dengan istrinya berupa hubungan karena kawin, yang menghubungkan kelompok saudara sekandungnya dengan saudara sekandung istrinya.
3)     hubungan yang lain yaitu hubungan antara individu dan istrinya dengan anak-anak mereka, yang merupakan hubungan keturunan.
Dalam kenyataan, kehidupan kekerabatan yang oleh Levi-Strauss dianggap hubungan positif adalah hubungan berdasarkan sikap bersahabat, mesra, dan cinta mencintai, sedang apa yang dianggapnya hubungan negatif adalah hubungan berdasarkan sikap sungkan, resmi, dan menghormati. Kedua hipotesis ini memungkinkan enam kombinasi yang olehnya diilustrasikan dengan data dari enam suku bangsa, yaitu suku bangsa Trobrian yang dideskripsikan oleh Malinowski, bangsa Siuai di Kepulauan Solomon, Melanesia, suku bangsa Dobu di kepulauan dekat Trobrian, suku bangsa Kobutu di Papua Nugini, suku bangsa Cherkess dan suku bangsa Tonga di Polynesia.
2.5 Etnografi dan Masalah Aneka Warna Manusia
Menurut pendapat Spradley (1980: 3) bahwa “etnografi adalah pekerjaan menggambarkan kebudayaan”. Sradley (1975: 69) mengemukakan kembali bahwa tujuan pendekatan etnografi adalah: Menemukan makna yang tersembunyi yang terletak dibelakang perilaku dan pengetahuan yang digunakan untuk menghasilkan dan menginterpretasikan perilaku. Tujuan utama dari etnografi adalah untuk memahami cara – cara kehidupan lain dari sudut pandang masyarakat. Membuat suatu etnografi tidak saja berarti kita mempelajari suatu masyarakat, etnografi berarti belajar dari masyarakat. Klasifikasi dari aneka-warna ciri tubuh manusia dalam hubungannya dengan sejarah persebarannya dimuka, dilakukan oleh seorang dokter bernama J.C Prichard (1786-1848) ia menghubungkan data etnografi mengenai ciri-ciri fisik dengan data etnografi mengenai kebudayaan berbagai bangsa yang tersebar didunia. Suatu teori yang menyatakan bahwa perubahan cara hidup, artinya perubahan kebudayaan, juga merupakan salah satu sebab dari perubahan ciri fisik manusia dikembangkannya dalam dua buah buku ytang berjudul Research into the Physical History of man (1813) dan the natural History of man.
Tujuan etnografi adalah belajar untuk memperoleh pengetahuan yang belum diketahuai dan tujuan seperti ini tergantung kepada gagasan mengenai urusan yang menekankan pentingnya proses menginterpretasikan mengenai segala sesuatu yang menjadi perhatian, mengenai alam, gerak dan lainnya.
Adapun aneka warna bentuk sistem kekeluargaan dan kekerabatan manusia . (Koentjaraningrat : 1972 : 88).
1.       Adat Istiadat Lingkaran Hidup
Dalam pembahasan materi ini kita akan banyak menemui berbagai istilah yang ada dalam sistem kekerabatan diantaranya stages along ( tingkat-tingkat sepanjang hidup individu). Ada juga istilah the life cycle yaitu masa peralihan bisa seperti masa bayi,masa kanak-kanak, remaja dan seterusnya. Dalam the life cycle juga akan dekat dengan upacara-upacara yang akan berkaitan dengan kepercayaan.
2.   Perkawinan
Jika kita memandangnya dari sisi kebudayaan maka perkawinan merupakan pengatur kelakuan manusia yang bersangkut paut dengan kehidupan sexnya. Hal ini agar seorang laki-laki tidak sembarangan dalam bersetubuh dengan wanita. ( Koentjaraningrat : 1972: 90 ). Dalam berkeluarga memberikan hak dan kewajiban serta perlindungan teradap anak. Hal ini keluarga sangat erat kaitannya dengan kekerabatan. Perkawinan itu memperluas jaringan kekerabatan kita .
3.   Rumah Tangga dan Keluarga Inti
Rumah tangga adalah bentuk suatu kesatuan sosial dan kesatuan ini biasanya mengurus ekonomi rumah tangga. (Koentjaraningrat : 1972).
Dapat disimpulkan bahwa adanya variasi-variasi kelompok kekerabatan yang mungkin ada di dalam masyarakat. Berikut rangkumannya: ( Koentjaraningrat : 1972 : 135)
1. Keluarga Inti ( nuclear family)
2. Keluarga Luas ( extended family)
3. Kindred
4. Keluarga Ambilineal Kecil ( Minimal ramage )
5. Klen kecil ( Minimal lineage,clan)
6. Keluarga Ambilineal Besar ( Maximal ramage Klen besar ( Maximal lineage, clan)

7. Fratri (Phratry)
8. Paroh masyarakat ( Moiety ).
Menurut konsepsi G.P Murdock ada tiga penggolongan dalam kekerabatan yaitu fungsi yang bersifat koorporasi ( corporate) , yang bersifat kadang kala ( occasional) dan yang bersifat melambangkan kesatuan adat ( circumscriptive). Dalam zaman modern ini banyak fungsi sosial yang diambil alih oleh pranata sosial dan lembaga-lembaga dalam masyarakat








BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Sistem Kekerabatan Matrilineal” yaitu “Sistem kekerabatan berdasarkan Garis Keturunan Ibu”. Sedangkan patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah.
Manusia melalui sebuah pernikahan merupakan satu prinsip mendasar untuk mengelompokan tiap orang dalam kelompok sosial peran kategori dan silsilah hubungan sebuah keluarga  dapat dihindari secara nyata ataupun secara abstrak menurut satu tingkatan kekerabatan dan sebuah hubungan dapat memiliki syarat  misalnya, ayah adalah sesorang yang memiliki anak











DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, 1972, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta, PT Dian             Rakyat.
Van Baal. J, 1985, Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Hingga             Dekade 1970), Jakarta, PT Gramedia

Komentar